Sebab Tuhan adalah Roh; dan dimana ada Roh Allah, disitu ada kemerdekaan 2 Korintus 3:17

Selasa, 24 Oktober 2017

Sistem Pendidikan dan Hoax Serta Alkitab

Yohanes 8:44 Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.

Full Life berpendapat terhadap teks di atas dusta disebut sebagai ciri khas Iblis; dia sumber segala kebohongan (Kej 3:1-6; Kis 5:3; 2Tes 2:9-11; Wahy 12:9). Dusta adalah dosa yang bertentangan dengan pikiran Allah, yang adalah kebenaran (Wahy 19:11). Acuh tak acuh terhadap dosa dusta merupakan salah satu tanda yang pasti dari keadaan yang tidak saleh, satu petunjuk bahwa seseorang belum dilahirkan oleh Roh Kudus (Yoh 3:6) tetapi berada di bawah pengaruh Iblis selaku bapa rohaninya. Akibat dari dusta maka lahirlah berita bohong atau dikenal dengan hoax.

Hoax menurut Wikipedia berarti pemberitaan palsu. Definisi hoax menurut kamus online Merriam Webster berarti to trick into believing or accepting as genuine something false and often preposterous atau apabila diterjemahkan berarti menjebak untuk membuat percaya terhadap sesuatu yang salah dan cenderung mustahil. Alkitab mencatat bahwa iblis menipu Adam dan Hawa dengan menyatakan dengan memakan pohon terlarang akan sama seperti Allah namun pernyataan itu menjebak manusia pertama sebab hal itu tidak mungkin/mustahil bagi manusia sama seperti Allah malah terbuang dari Taman Eden. Alkitab mencatat bahwa hoax telah ada saat manusia pertama hidup dan bersumber kepada iblis yang memberitakan kabar hoax

Informasi Bohong (Hoax) merupakan virus yang menciptakan kebodohan dan eskalasi ujaran kebencian ditengah masyarakat. Hoax makin berkembang dalam situasi kebebasan mengekspresikan pendapat yang ditopang kemajuan teknologi informasi. Teknologi informasi yang berbuah pada terciptanya ragam aplikasi media sosial. Media sosial yang diciptakan untuk menguatkan komunikasi dan solidaritas sosial justru menjadi ruang penyebaran Hoax.

Lynda Walsh dengan bukunya berjudul Sins Against Science mengatakan bahwa konten hoax adalah sebuah istilah dalam bahasa Inggris yang sudah ada sejak era revolusi industri Ingris. Kata hoax diperkirakan pertama kali muncul pada tahun 1808.
Menurut Alexander Boese dengan bukunya berjudul Museum of Hoaxes, menyatakan hoax pertama yang dipublikasikan yaitu sistem penanggalan palsu yang dibuat oleh Isaac Bickerstaff alias Jonathan Swift pada tahun 1709. Jonathan Swift saat itu meramalkan meninggalnya astrolog John Partridge supaya dapat meyakinkan publik. Jonathan bahkan membuat obituari palsu tentang Partridge pada hari yang diramal sebagai hari kematiannya. Swift membuat kabar bohong ini untuk mempermalukan Partridge di hadapan publik yang mengakibatkan Partridge berhenti dan “minder” membuat penanggalan astrologi hingga enam tahun setelah hoax tersebut tersebar. Karya Alexander Boase semakin dikenal ketika buku dengan judul yang sama diangkat dilayar lebar pada tahun 2006.
Pendapat Robert Nares, seperti yang dikutip brilio.net dari WikiWand.Menurut Nares, hoax berasal dari kata “Hocus”, yang berarti menipu. Hocus sendiri merupakan mantra sulap yang merupakan kependekan dari “Hocus Pocus”, istilah ini biasa digunakan oleh pesulap atau penyihir sebaga mantra untuk menyatakan bahwa semua yang dilakukannya benar atau nyata.
Jika ditelusuri maka sejarah lahirnya yang dianggap berita hoax adalah simpang siur tetapi hoax adalah istilah dalam bahasa Inggeris yang menyebar keseluruh dunia terlebih lebih era teknologi informasi dengan media sosial yang menjadi fenomena sosial.

Menurut sebuah penelitian oleh Sekretaris Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Wina Armada Sukardi menyebutkan, “hoax” yang paling banyak tersebar adalah mengenai informasi kesehatan. Disamping kesehatan hoax juga diproduksi oleh beberapa kepentingan politik dan ekonomi. Kepentingan Politik lazimnya terkait momentum elektoral demokrasi seperti Pilkada, Pilpres atau pemilu. Banyaknya masyarakat yang termakan berita hoax ini disebabkan oleh kultur skeptis dan model pendidikan Indonesia yang tidak dialektis. Sebagian masyarakat Indonesia memang terbilang “kagetan”, masyarakat kita begitu mudah mempercayai suatu kabar dari mulut ke mulut tanpa meng-kroscek sumbernya langsung, budaya gosip seolah menjadi sebuah pembenaran paling nyata dalam setiap pembicaraan.
Sedangkan menurut survei yang diadakan oleh Mastel, jenis hoax bermuatan sosial politik menempati urutan tertinggi dengan persentase 91.8%. Disusul hoax dengan isu SARA 88.6%, hoax kesehatan 41.2%, hoax makanan dan minuman 32.6%, kemudian hoax penipuan keuangan 24.5%, dan hoax-hoax lain seputar iptek, berita duka, candaan, bencana alam, dan lalu lintas.

Menurut Shafiq Pontoh dari Provetic, ada lima motivasi seseorang menciptakan berita hoax. Di antaranya: ideologi, uang, politik, kebencian, dan iseng.
Staf Ahli Menteri Kominfo Bidang Hukum Henry Subiakto di Jakarta secara khusus mengatakan ciri-ciri berita hoax membuat kebencian dan kecemasan (ketakutan / paranoid) yang biasanya diikuti rekayasa foto dan fakta lalu terdapat ajakan untuk menyebarkan agar viral. Beredarnya berita bohong melalui media abal-abal, menurut dia, dapat menimbulkan perkumpulan orang-orang yang merasa memiliki pemahaman yang sama atau efek "echo chamber". "Orang yang hanya berkomunikasi dengan orang sepemikiran sehingga memperteguh pikiran mereka. Kalau masyarakat tidak mendapat informasi benar dan bermusuhan bisa hancur negara ini," kata Henry. Ia menuturkan berita palsu memiliki dampak yang sangat berbahaya karena dapat menimbulkan perpecahan, pengelompokan dan radikalisme.

Fenomena hoax yang terjadi di masyarakat kita merupakan salah satu potret gagalnya pendidikan. Tanpa kita sadari sejak kecil kita dididik untuk menerima. Pendidikan kita yang masih mengandalkan dialog sepihak antara guru dengan murid tanpa disadari telah membentuk sikap menerima itu sendiri. Guru seolah – olah menjadi sumber pengetahuan dan kebenaran pengetahuannya menjadi hal yang tak terbantah. Guru dianggap sebagai seorang yang menyadarkan murid yang dianggap perlu disadarkan, guru yang dianggap tahu segalanya menjadi sumber segala ilmu dan disinilah proses transfer pendidikan terjadi. Guru hanya memberikan apa yang diketahuinya untuk dicerna oleh murid dan cenderung mematikan proses dialog yang diidealkan dalam pendidikan.

Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan dari Amerika Latin menganggap ini sebagai pendidikan model bank. Dimana murid diangap sebagai bejana kosong yang harus diisi dengan ilmu pengetahuan. Model pendidikan yang lebih mengutamakan hafalan. Guru pemberi materi, sementara murid diharuskan menghafal semua teori yang disampaikan guru tanpa mengkiritisinya atau berdialektis mempertentangkan dua teori yang ada. Dalam hal ini, murid mempersepsikan diri bahwa guru adalah kebenaran mutlak yang tidak terbantahkan yang menumbuhkan mental instant dimana berbagai hal diterima tanpa perlu dibuktikan kebenarannya karena sudah terbiasa dididik seperti itu. Hal ini kemudian berpengaruh terhadap respon masyarakat atas berita yang beredar di media sosial( mayoritas hoax beredar disini). Masyarakat kita yang mayoritas hanya menempuh pendidikan dasar dan menengah menjadi sasaran empuk berita hoax. Hal ini sangat meresahkan terlebih bukannya dilawan justru digunakan oleh pihak yang tak bertanggung – jawab sebagai bisnis yang menyesatkan.

Ari Kristianawati menyatakan mudahnya Hoax membuat kebingungan kolektif dikalangan pembelajar dan pendidik disebabkan oleh rendahnya wawasan literasi. Wawasan Literasi yang rendah disebabkan oleh rendahnya minat baca dikalangan guru dan siswa. Tidak banyak guru (pendidik) yang memiliki kesadaran untuk mengembangkan khazanah dan aktivitas literasi.Guru (pendidik) hanya segelintir orang yang memiliki kesadaran untuk membeli Buku ilmu pengetahuan, menulis pengalaman pengajaran, dan berdiskusi tentang dialektika pengetahuan modern.

Hoax dalam era informatika di akhir zaman semakin mudah ditemukan sehingga manusia terjebak untuk mempercayai yang salah. Hal itu diteguhkan misalnya dalam 2Timotius 4:4. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. Mereka lakukan itu untuk memuaskan keinginan telinga (ayat 3) yang diduga adalah efek echo chamber.

Yesus bertanya kepada kita, adakah iman di bumi ini jika DIA datang kedua kalinya ditengah makin derasnya hoax yang beredar sehingga seperti manusia pertama yang "berkesimpulan" dengan makan buah terlarang akan "sama seperti Allah" yang menjadikan manusia budak dari dosa dan dusta. Yesus saat kedatanganNya yang pertama telah menyatakan kebenaran sebab Akulah jalan, hidup dan kebenaran dengan mengungkapkan bahwa Iblis yang tidak hidup dalam dalam kebenaran adalah pendusta dan melakukan hal itu sesuai kehendak dirinya.


Dalam arus berita bohong dan sistem pendidikan yang rawan menghadapi hoax maka kita harus setia dalam merenungkan Firman Tuhan sebagai pedang roh dalam perang terhadap kebohongan dan Alkitab adalah literasi yang teruji menghadapi aneka hoax yang ada. Dengan pertolongan Firman-Nya dan Roh Kudus yang memberikan hikmat / marifat maka kita dapat hidup dalam kebenaran ditengah kabar bohong yang melanda dunia.

Pesan bagi umatNya adalah
2 Tesalonika 2:27. Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu--dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta--dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.

Share this

Random Posts

Kontak

Pesan untuk admin dapat disampai lewat : ruach.haphazard393@passinbox.com

Label Mobile

biblika (79) budaya (47) dasar iman (88) Dogmatika (72) Hermeneutika (73) karakter (40) Lainnya (89) manajemen (65) pendidikan (58) Resensi buku (9) Sains (53) Sistimatika (71) sospol (63) spritualitas (88) tokoh alkitab (42) Video (9)