Sebab Tuhan adalah Roh; dan dimana ada Roh Allah, disitu ada kemerdekaan 2 Korintus 3:17

Sabtu, 22 Februari 2025

Ketahanan Pangan dengan Kemiskinan Di Akhir Zaman

Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata: "Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu." Wahyu 6:6

Herodotus sebagai bapak sejarah dunia yang hidup pada tahun 484 SM hingga 425 SM memberi penjelasan bahwa secupak adalah ukuran volume untuk bahan kering, seperti biji-bijian (gandum atau jelai). Secupak adalah ukuran yang cukup untuk makanan sehari seorang pria dewasa. Dalam konteks Wahyu 6:6, secupak gandum dibandingkan dengan satu dinar, yang merupakan upah sehari seorang pekerja pada masa itu. Hal ini mengindikasikan bahwa harga gandum sangat mahal pada saat itu, sehingga satu cupak gandum (makanan sehari) setara dengan upah satu hari kerja. Bila upah rata-rata pekerja adalah satu dinar hanya cukup untuk makanan satu orang pria dewasa maka data ini menunjukkan ketahanan pangan sangat rendah dan terjadi saat kelaparan melanda juga timbulnya permasalahan serius dalam ekonomi.

Masalah pangan sesuatu yang sangat mendasar bagi makhluk hidup. Di Indonesia permasalahan pangan menjadi perhatian nasional dengan hadirnya undang-undang No.7 tahun 1996 tentang pangan. Pasal 1 Ayat 17 yang menyebutkan bahwa Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Ketahanan pangan adalah keadaan ketika semua orang pada setiap saat mempunyai akses fisik, sosial, dan ekonomi terhadap kecukupan pangan, aman dan bergizi untuk pemenuhan gizi sesuai dengan seleranya untuk hidup produktif dan sehat.

Dalam ketahanan pangan ada model yang menjadi rumusan penetapan rumah tangga tahan pangan berdasarkan proporsi pengeluaran pangan yang rendah (kurang dari 60% pengeluaran rumah tangga) dan konsumsi energi yang cukup (lebih dari 80% dari syarat kecukupan energi) didasarkan pada beberapa pemikiran dan penelitian. Antara lain:
- Proporsi Pengeluaran Pangan sebagai Indikator Kemiskinan karena keluarga miskin cenderung menghabiskan sebagian besar pendapatan mereka untuk memenuhi kebutuhan pangan. Semakin tinggi proporsi pengeluaran untuk pangan, semakin sedikit uang yang tersisa untuk kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan, dan perumahan. Oleh karena itu, proporsi pengeluaran untuk pangan yang rendah dapat menunjukkan tingkat kesejahteraan yang lebih baik.
- Kecukupan Energi sebagai Indikator Gizi karena energi dibutuhkan untuk menjalankan fungsi tubuh dan melakukan aktivitas sehari-hari. Kekurangan energi dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti kekurangan gizi, kelelahan, dan penurunan produktivitas. Oleh karena itu, konsumsi energi yang cukup (minimal 80% dari syarat kecukupan energi) dianggap penting untuk mencapai ketahanan pangan.
- Kombinasi antara proporsi pengeluaran pangan yang rendah dan konsumsi energi yang cukup dianggap sebagai indikator yang lebih komprehensif untuk mengukur ketahanan pangan rumah tangga. Rumah tangga yang memenuhi kedua kriteria ini dianggap memiliki akses yang cukup terhadap pangan yang bergizi dan mampu memenuhi kebutuhan energi mereka.
- Penelitian dan Standar Internasional seperti Food and Agriculture Organization (FAO) dan World Health Organization (WHO) menggunakan indikator serupa untuk mengukur ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.
- Batasan dan Kritik yaitu beberapa ahli berpendapat bahwa indikator ini tidak sepenuhnya mencerminkan dimensi lain dari ketahanan pangan, seperti kualitas dan keragaman pangan. Selain itu, penetapan batasan 60% untuk proporsi pengeluaran pangan dan 80% untuk konsumsi energi juga dianggap arbitrer dan perlu disesuaikan dengan konteks lokal.

Statistik porsi pengeluaran untuk makanan dan nonmakanan di antara rumah tangga perkotaan di Indonesia dari Maret 2016 hingga Maret 2024 terjadi peningkatan secara kontiyu yaitu di tahun 2016 persentase penghasilan untuk membeli makanan sebesar 44,57% dan non makanan sebesar 55,43% lalu di tahun 2024 perhasilan untuk makanan adalah 46,61% dan non makanan sebesar 53,39%. Data tersebut seolah-olah Indonesia masih aman sebab secara rata-rata belum menyentuh 60% sesuai yang ditetapkan secara internasional tetapi banyak rumah tangga mendapatkan aneka bantuan dan subsidi. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ada sekitar tiga juta orang Indonesia mendapatkan makanan dari sisa-sisa makanan di tempat sampah. Jika untuk memenuhi makanan didapat dari tempat sampah maka penghasilan yang didapat lebih kecil dari kebutuhan makanan yang diperlukan. Data lainnya skala pengalaman kerawanan pangan. Indikator ini mengukur tingkat kerawanan pangan individu atau rumah tangga berdasarkan pengalaman mereka dalam menghadapi kesulitan mengakses pangan yang cukup dan bergizi maka didapati Papua Selatan dan Nusa Tenggara Timur angka statistiknya cukup merisaukan. Statistik proporsi populasi yang kekurangan gizi. Indikator ini mengukur persentase orang yang tidak mengonsumsi cukup kalori untuk memenuhi kebutuhan energi minimum mereka menunjukkan Maluku dan Maluku Utara bermasalah sedangkan daerah Papua banyak yang tidak memberikan laporannya.

Saat berbicara ketahanan pangan maka FAO (Food and Agriculture Organization) membutuhkan FAO berbagai data dan indikator yang berkaitan dengan ketahanan pangan, yang dapat dianalisis lebih lanjut untuk memahami pola konsumsi dan kaitannya dengan pengeluaran serta penghasilan, yaitu: (Data ini juga berguna dalam program bagi makanan bergizi gratis)
- Prevalence of Undernourishment (PoU): Proporsi populasi yang kekurangan gizi. Indikator ini mengukur persentase orang yang tidak mengonsumsi cukup kalori untuk memenuhi kebutuhan energi minimum mereka.
- Food Insecurity Experience Scale (FIES): Skala pengalaman kerawanan pangan. Indikator ini mengukur tingkat kerawanan pangan individu atau rumah tangga berdasarkan pengalaman mereka dalam menghadapi kesulitan mengakses pangan yang cukup dan bergizi.
- Dietary Energy Supply (DES): Ketersediaan energi makanan. Indikator ini mengukur rata-rata ketersediaan energi makanan per kapita per hari di suatu negara atau wilayah.
- Household Food Consumption Score (HFCS): Skor konsumsi pangan rumah tangga. Indikator ini mengukur kualitas dan keragaman konsumsi pangan rumah tangga berdasarkan frekuensi konsumsi berbagai jenis makanan.
- Percentage of Expenditure on Food: Persentase pengeluaran untuk makanan. Indikator ini mengukur proporsi pendapatan rumah tangga yang dialokasikan untuk membeli makanan.

Penetapan ukuran 60% dari penghasilan digunakan untuk bahan keperluan makan dan minum sebagai satuan ketahanan pangan maka kenaikan harga pangan sesuatu yang diusahakan untuk dihindari oleh banyak kalangan. Kenaikan harga pangan dapat memiliki dampak yang luas dan signifikan bagi berbagai pihak, mulai dari individu hingga perekonomian secara keseluruhan. Contoh:

  • Daya Beli Masyarakat Menurun:
    - Pengeluaran Meningkat: Kenaikan harga pangan berarti masyarakat harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli kebutuhan pokok yang sama. Hal ini mengurangi daya beli mereka terhadap barang dan jasa lainnya.
    - Pilihan Terbatas: Masyarakat, terutama yang berpenghasilan rendah, mungkin terpaksa mengurangi konsumsi makanan bergizi dan memilih makanan yang lebih murah namun kurang sehat.
  • Inflasi Meningkat:
    - Harga Barang dan Jasa Lain Naik: Kenaikan harga pangan dapat memicu inflasi, yaitu kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Hal ini dapat terjadi karena biaya produksi barang dan jasa lainnya juga ikut naik akibat kenaikan harga bahan baku pangan.
    - Nilai Mata Uang Menurun: Inflasi yang tinggi dapat menyebabkan nilai mata uang menurun, sehingga daya beli masyarakat semakin tergerus.
  • Ketahanan Pangan Terancam:
    - Akses Terhadap Makanan Berkurang: Kenaikan harga pangan dapat mempersulit masyarakat untuk mengakses makanan yang cukup dan bergizi. Hal ini dapat menyebabkan masalah kekurangan gizi dan kelaparan, terutama di daerah miskin dan terpencil.
    - Kerentanan Meningkat: Negara-negara yang bergantung pada impor pangan akan sangat rentan terhadap kenaikan harga pangan global. Hal ini dapat mengganggu stabilitas pasokan pangan dan meningkatkan risiko krisis pangan.
  • Sektor Pertanian Terpengaruh:
    - Biaya Produksi Meningkat: Kenaikan harga pangan juga dapat berdampak pada petani. Meskipun harga jual produk pertanian mereka naik, biaya produksi seperti pupuk, pestisida, dan benih juga bisa ikut naik.
    - Insentif Berkurang: Jika kenaikan harga pangan tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan petani, hal ini dapat mengurangi insentif mereka untuk bertani. Akibatnya, produksi pangan dapat menurun dalam jangka panjang.
  • Dampak Sosial dan Politik:
    - Ketegangan Sosial: Kenaikan harga pangan dapat memicu ketegangan sosial dan bahkan kerusuhan, terutama jika masyarakat merasa tidak puas dengan kebijakan pemerintah dalam mengatasi masalah ini.
    - Ketidakstabilan Politik: Krisis pangan dapat mengguncang stabilitas politik suatu negara. Pemerintah yang gagal mengatasi masalah ini dapat kehilangan dukungan rakyat dan menghadapi risiko penggulingan.
  • Kesehatan Masyarakat Terganggu:
    - Kekurangan Gizi: Kenaikan harga pangan dapat menyebabkan masyarakat, terutama anak-anak dan ibu hamil, kekurangan gizi. Kekurangan gizi dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan, serta meningkatkan risiko berbagai penyakit.
    - Akses Layanan Kesehatan Berkurang: Masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan juga mungkin kesulitan mengakses layanan kesehatan. Hal ini dapat memperburuk kondisi kesehatan mereka secara keseluruhan.
  • Lingkungan Hidup Terpengaruh:
    - Konversi Lahan Meningkat: Untuk memenuhi permintaan pangan yang meningkat, orang mungkin akan membuka lahan baru untuk pertanian. Hal ini dapat menyebabkan deforestasi dan kerusakan lingkungan.
    - Penggunaan Sumber Daya Berlebihan: Peningkatan produksi pangan juga dapat menyebabkan penggunaan sumber daya alam yang berlebihan, seperti air dan tanah. Hal ini dapat mengancam keberlanjutan lingkungan.

Kenaikan harga bahan pangan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap indeks kemiskinan di suatu daerah. Mekanisme Pengaruh Kenaikan Harga Pangan terhadap Kemiskinan adalah:
- Daya Beli Masyarakat Menurun: Kenaikan harga bahan pangan secara langsung mengurangi daya beli masyarakat, terutama kelompok masyarakat miskin yang proporsi pengeluaran terbesarnya dialokasikan untuk makanan. Dengan pendapatan yang tetap atau bahkan menurun, keluarga miskin harus mengurangi konsumsi barang dan jasa lainnya, termasuk kebutuhan dasar seperti pendidikan dan kesehatan.
- Garis Kemiskinan Meningkat: Garis kemiskinan, yang merupakan batas minimum pendapatan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar, akan meningkat seiring dengan kenaikan harga bahan pangan. Akibatnya, lebih banyak orang yang jatuh di bawah garis kemiskinan dan dianggap miskin secara resmi.
- Proporsi Pengeluaran untuk Pangan Meningkat: Keluarga miskin biasanya menghabiskan sebagian besar pendapatan mereka untuk makanan. Ketika harga pangan naik, proporsi pengeluaran untuk makanan akan semakin besar, meninggalkan sedikit atau bahkan tidak ada dana untuk kebutuhan lain. Hal ini dapat memperburuk kondisi kemiskinan secara keseluruhan.
- Kerentanan Terhadap Kemiskinan Meningkat: Kenaikan harga pangan membuat masyarakat yang hampir miskin menjadi lebih rentan untuk jatuh ke dalam kemiskinan. Mereka yang sebelumnya berada sedikit di atas garis kemiskinan dapat dengan mudah terdorong ke bawah garis kemiskinan jika harga pangan terus meningkat.

Kenaikan harga bahan pangan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat alamiah, ekonomi, sosial, maupun politik. Faktor-faktor penting yang mempengaruhi kenaikan harga bahan pangan:

  • Faktor Alamiah:
    - Perubahan Iklim: Cuaca ekstrem seperti kekeringan, banjir, atau badai dapat merusak hasil pertanian dan mengurangi pasokan bahan pangan.
    - Bencana Alam: Gempa bumi, tsunami, atau letusan gunung berapi dapat mengganggu produksi dan distribusi pangan.
    - Hama dan Penyakit Tanaman: Serangan hama atau wabah penyakit pada tanaman dapat mengurangi hasil panen.
  • Faktor Produksi:
    - Biaya Produksi yang Tinggi: Kenaikan harga pupuk, benih, pestisida, atau bahan bakar dapat meningkatkan biaya produksi pertanian.
    - Keterbatasan Lahan Pertanian: Alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman atau industri mengurangi luas lahan yang tersedia untuk produksi pangan.
    - Teknologi Pertanian yang Terbatas: Kurangnya penggunaan teknologi modern dapat menurunkan produktivitas pertanian.
  • Faktor Distribusi dan Logistik:
    - Biaya Transportasi yang Tinggi: Kenaikan harga bahan bakar atau biaya logistik dapat meningkatkan harga bahan pangan.
    - Infrastruktur yang Buruk: Jalan yang rusak atau fasilitas penyimpanan yang tidak memadai dapat menyebabkan kerusakan bahan pangan selama distribusi.
    - Gangguan Rantai Pasok: Konflik, pandemi, atau bencana dapat mengganggu rantai pasok dan mengurangi pasokan pangan.
  • Faktor Ekonomi:
    - Inflasi: Kenaikan harga umum secara keseluruhan dapat memengaruhi harga bahan pangan.
    - Nilai Tukar Mata Uang: Depresiasi mata uang lokal terhadap mata uang asing dapat meningkatkan harga bahan pangan impor.
    - Kenaikan Permintaan: Pertumbuhan populasi atau perubahan pola konsumsi dapat meningkatkan permintaan terhadap bahan pangan.
    - Spekulasi Pasar: Aktivitas spekulasi di pasar komoditas dapat menyebabkan kenaikan harga pangan secara tidak wajar.
  • Faktor Politik dan Kebijakan:
    - Kebijakan Impor dan Ekspor: Pembatasan ekspor atau impor oleh pemerintah dapat memengaruhi pasokan dan harga pangan.
    - Subsidi dan Tarif: Perubahan kebijakan subsidi pertanian atau tarif impor dapat memengaruhi harga bahan pangan.
    - Konflik dan Perang: Konflik bersenjata atau ketegangan politik dapat mengganggu produksi dan distribusi pangan.
  • Faktor Sosial dan Demografis:
    - Pertumbuhan Populasi: Peningkatan jumlah penduduk meningkatkan permintaan terhadap bahan pangan.
    - Urbanisasi: Perpindahan penduduk ke kota dapat mengurangi tenaga kerja di sektor pertanian dan meningkatkan permintaan pangan di perkotaan.
    - Perubahan Pola Konsumsi: Pergeseran preferensi konsumen ke makanan tertentu dapat meningkatkan permintaan dan harga komoditas tersebut.
  • Faktor Lingkungan Global:
    - Perubahan Iklim Global: Dampak perubahan iklim seperti pemanasan global dapat memengaruhi produksi pangan di seluruh dunia.
    - Ketergantungan pada Pasar Global: Negara yang bergantung pada impor pangan rentan terhadap fluktuasi harga global.
  • Faktor Teknologi dan Inovasi:
    - Kurangnya Inovasi Pertanian: Minimnya penerapan teknologi pertanian modern dapat menghambat peningkatan produktivitas.
    - Ketergantungan pada Bahan Kimia: Penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang berlebihan dapat merusak lingkungan dan mengurangi hasil panen jangka panjang.
  • Faktor Keuangan dan Investasi:
    - Kurangnya Investasi di Sektor Pertanian: Minimnya investasi dalam infrastruktur pertanian, penelitian, dan pengembangan dapat menghambat produksi pangan.
    - Fluktuasi Harga Komoditas Global: Harga bahan pangan di pasar global dapat memengaruhi harga di tingkat lokal.
  • Faktor Kesehatan:
    - Pandemi atau Wabah Penyakit: Pandemi seperti COVID-19 dapat mengganggu produksi, distribusi, dan akses ke bahan pangan.
    - Kesehatan Tanaman dan Hewan: Wabah penyakit pada tanaman atau hewan ternak dapat mengurangi pasokan pangan.

Kenaikan harga pangan akan menjadi lebih parah bila terjadi antara lain seperti:
- Ketimpangan Pendapatan: Daerah dengan tingkat ketimpangan pendapatan yang tinggi akan lebih terpengaruh oleh kenaikan harga pangan. Kelompok miskin akan menanggung beban yang lebih besar dibandingkan kelompok kaya.
- Akses Terhadap Jaringan Pengaman Sosial: Daerah yang memiliki jaringan pengaman sosial yang lemah, seperti program bantuan pangan atau subsidi, akan lebih sulit mengatasi dampak kenaikan harga pangan.
- Ketergantungan pada Impor Pangan: Daerah yang sangat bergantung pada impor pangan akan sangat rentan terhadap fluktuasi harga pangan global.

Kebutuhan kalori orang Indonesia saat ini dominan dipenuhi oleh karbohidrat. Pemenuhan kalori digantungkan kepada pemenuhan karbohirat memiliki berbagai dampak, baik positif maupun negatif. Contoh:

  1. Dampak positif ketergantungan kepada karbohidrat antara lain:
    - Sumber Energi Cepat untuk aktivitas sehari-hari. Hal ini sangat bermanfaat bagi atlet atau orang yang melakukan aktivitas fisik intensif.
    - Harga terjangkau sebab sumber karbohidrat seperti beras, gandum, atau jagung umumnya lebih murah dibandingkan sumber protein atau lemak, sehingga lebih mudah diakses oleh masyarakat.
    - Mengenyangkan sebab biasanya berbentuk karbohidrat kompleks (seperti nasi merah, gandum utuh, atau kentang) dapat memberikan rasa kenyang lebih lama karena mengandung serat.
    - Mendukung fungsi otak karena otak bergantung pada glukosa (hasil pemecahan karbohidrat) sebagai sumber energi utama. Asupan karbohidrat yang cukup dapat mendukung fungsi kognitif.
  2. Dampak negatif ketergantungan kepada karbohidrat antara lain:
    - Risiko obesitas terutama karbohidrat sederhana (seperti gula dan tepung olahan), dapat menyebabkan penumpukan kalori berlebih dan meningkatkan risiko obesitas.
    - Kenaikan gula darah terutama karbohidrat sederhana dapat menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat, yang berisiko bagi penderita diabetes atau prediabetes. Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan resistensi insulin, yang merupakan faktor risiko diabetes tipe 2. - Kekurangan nutrisi lain seandainya karbohidrat mendominasi asupan kalori, kemungkinan besar asupan protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral akan berkurang. Hal ini dapat menyebabkan defisiensi nutrisi.
    - Masalah pencernaan jika karbohidrat yang dikonsumsi rendah serat (seperti nasi putih atau roti tawar), dapat menyebabkan masalah pencernaan seperti sembelit. Di sisi lain, konsumsi serat berlebihan (dari karbohidrat kompleks) tanpa cukup air dapat menyebabkan kembung atau gangguan pencernaan.
    - Peningkatan risiko penyakit jantung bila konsumsi karbohidrat olahan dan gula tambahan yang tinggi dapat meningkatkan kadar trigliserida dan menurunkan kadar kolesterol HDL (kolesterol baik), yang merupakan faktor risiko penyakit jantung.
    - Ketergantungan pada gula karena konsumsi karbohidrat sederhana yang tinggi dapat menyebabkan ketergantungan pada gula, yang memicu siklus keinginan makan manis dan fluktuasi energi.
    - Penurunan energi jangka panjang, meskipun karbohidrat memberikan energi cepat, konsumsi berlebihan dapat menyebabkan "crash" energi setelahnya, membuat seseorang merasa lelah dan lesu.
    - Pengaruh pada mood sebab fluktuasi gula darah yang disebabkan oleh konsumsi karbohidrat sederhana dapat memengaruhi mood, menyebabkan iritabilitas, kecemasan, atau depresi.
  3. Faktor yang Memperburuk Dampak Negatif:
    - Jenis Karbohidrat: Karbohidrat sederhana (seperti gula, sirup, atau tepung olahan) lebih berisiko daripada karbohidrat kompleks (seperti biji-bijian utuh, sayuran, dan buah).
    - Gaya Hidup Sedentari: Kurangnya aktivitas fisik dapat memperburuk dampak negatif dari konsumsi karbohidrat berlebihan.
    - Kondisi Kesehatan: Orang dengan kondisi seperti diabetes, obesitas, atau sindrom metabolik lebih rentan terhadap dampak negatif dominasi karbohidrat.
  4. Rekomendasi untuk Keseimbangan Nutrisi:
    - Pilih Karbohidrat Kompleks: Utamakan sumber karbohidrat yang kaya serat, seperti biji-bijian utuh, sayuran, dan buah.
    - Batasi Karbohidrat Sederhana: Kurangi konsumsi gula tambahan, minuman manis, dan makanan olahan.
    - Seimbangkan dengan Protein dan Lemak Sehat: Pastikan asupan kalori juga berasal dari sumber protein (seperti daging tanpa lemak, ikan, kacang-kacangan) dan lemak sehat (seperti alpukat, minyak zaitun, kacang-kacangan).
    - Perhatikan Porsi: Konsumsi karbohidrat dalam porsi yang sesuai dengan kebutuhan energi harian.
    - Aktivitas Fisik: Lakukan olahraga teratur untuk membantu mengelola kadar gula darah dan menjaga berat badan sehat.

Saat ANAK MANUSIA membuka meterai ketiga maka terjadi secupak gandum harganya satu dinar sedangkan tiga cupak jelai harganya satu dinar. Hal ini sebagai alasan untuk berpikir makanan masa depan bagi manusia. Serangga adalah salah satu alternatif sumber hewan yang patut dipertimbangkan yaitu dengan memelihara serangga untuk dikonsumsi manusia yang memerlukan teknik yang tepat, mulai dari pemilihan jenis serangga, persiapan kandang, pemberian pakan, hingga pengolahan pasca panen. Dengan mengikuti praktik terbaik dan menjaga standar keamanan serta kebersihan, serangga dapat menjadi sumber pangan alternatif yang berkelanjutan dan bernutrisi tinggi. Selain serangga ada sejumlah altenatif yang dapat dikembangkan. Contoh:
- Protein Nabati (Plant-Based Protein) seperti: Tahu, tempe, lentil, kacang-kacangan, dan produk olahan seperti burger nabati (Beyond Meat, Impossible Foods) sebab protein nabati memiliki jejak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan daging hewani, serta kaya akan serat, vitamin, dan mineral. Tren produk seperti susu almond, susu oat, dan keju vegan semakin populer sebagai alternatif produk hewani.
- Daging Kultur (Lab-Grown Meat) yaitu daging yang diproduksi dengan cara menumbuhkan sel hewan di laboratorium tanpa perlu menyembelih hewan sebab mengurangi dampak lingkungan dari peternakan konvensional dan menghindari masalah etis terkait penyembelihan hewan. Contoh Perusahaan: Memphis Meats, Mosa Meat, dan Eat Just.
- Alga dan Mikroalga seperti: Spirulina dan chlorella dengan alasan kaya protein, vitamin, mineral, dan asam lemak omega-3. Alga juga dapat tumbuh cepat dengan sumber daya yang minimal. Penggunaan: Dapat dikonsumsi sebagai suplemen, ditambahkan ke smoothie, atau diolah menjadi makanan lain.
- Rumput Laut (Seaweed) seperti: Nori, wakame, dan kelp. Alasan rumput laut kaya akan nutrisi seperti yodium, zat besi, dan kalsium. Selain itu, budidaya rumput laut ramah lingkungan karena tidak memerlukan lahan atau air tawar. Penggunaan: Dikonsumsi langsung, sebagai bahan sushi, atau diolah menjadi snack.
- Jamur (Fungi) seperti: Jamur konsumsi seperti jamur tiram, shiitake, dan jamur portobello. Alasan jamur kaya akan protein, serat, dan vitamin. Beberapa jenis jamur juga dapat digunakan sebagai pengganti daging karena teksturnya yang mirip. Inovasi: Perusahaan seperti Quorn memproduksi produk berbasis jamur sebagai alternatif daging.
- Makanan Fermentasi seperti: Kimchi, kombucha, tempe, miso, dan kefir. Alasan makanan fermentasi kaya akan probiotik yang baik untuk kesehatan pencernaan. Proses fermentasi juga dapat meningkatkan nilai gizi makanan. Tren: Semakin populer sebagai makanan fungsional yang mendukung kesehatan usus.
- Biji-Bijian dan Serealia Alternatif seperti: Quinoa, chia seed, amaranth, dan sorgum. Alasan biji-bijian ini kaya akan protein, serat, dan nutrisi penting lainnya. Mereka juga lebih tahan terhadap perubahan iklim dibandingkan serealia konvensional seperti gandum atau beras. Penggunaan: Dapat diolah menjadi bubur, salad, atau bahan roti.
- Protein dari Bakteri (Single-Cell Protein) yaitu protein yang diproduksi oleh mikroorganisme seperti bakteri atau ragi melalui proses fermentasi. Alasan produksinya memerlukan sedikit lahan dan air, serta dapat menggunakan limbah sebagai bahan baku. Contoh Perusahaan: Solar Foods (Finlandia) memproduksi protein dari bakteri yang diberi makan dengan karbon dioksida dan listrik.
- Buah dan Sayuran yang Tahan Iklim seperti: varietas tanaman yang direkayasa untuk tahan terhadap kekeringan, banjir, atau hama. Alasan dengan perubahan iklim, tanaman yang tahan terhadap kondisi ekstrem akan menjadi semakin penting untuk ketahanan pangan. Inovasi: Tanaman seperti beras tahan banjir atau jagung tahan kekeringan sedang dikembangkan.
- Makanan dari Limbah (Upcycled Food) yaitu makanan yang dibuat dari bahan-bahan yang biasanya dibuang, seperti kulit buah, biji, atau sisa produksi makanan. Alasan mengurangi limbah makanan dan memanfaatkan sumber daya yang ada secara lebih efisien. Contoh: Tepung yang terbuat dari kulit pisang atau minyak dari biji buah yang biasanya dibuang.
- Makanan yang Diperkaya dengan Nutrisi (Fortified Foods) yaitu makanan yang ditambahkan dengan nutrisi tertentu untuk meningkatkan nilai gizinya. Alasan dapat membantu mengatasi defisiensi nutrisi di daerah dengan akses terbatas ke makanan bergizi. Contoh: Garam beryodium, tepung yang diperkaya zat besi, atau susu yang diperkaya vitamin D.
- Makanan dari Udara (Air-Based Food) yaitu teknologi yang mengubah karbon dioksida dari udara menjadi makanan menggunakan mikroorganisme. Alasan ramah lingkungan dan tidak memerlukan lahan pertanian. Contoh Perusahaan: Solar Foods (Finlandia) mengembangkan produk protein dari udara.
- Makanan dari Tanaman Air (Aquatic Plants) sepeerti: Azolla (paku air) dan duckweed (lemna). Alasan tumbuh cepat, kaya protein, dan dapat dibudidayakan di air tawar atau payau. Potensi: Dikembangkan sebagai pakan ternak atau sumber pangan manusia.
- Makanan yang Didesain Secara Personal (Personalized Nutrition) yaitu makanan yang dirancang berdasarkan kebutuhan nutrisi individu, menggunakan data genetik atau kesehatan. Alasan meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit dengan memberikan nutrisi yang tepat. Contoh: Perusahaan seperti Habit dan DNAfit menawarkan layanan nutrisi personal.

Ketahanan pangan erat kaitannya dengan jumlah persentase yang dikeluarkan untuk kebutuhan makan dan minum yang terkait dengan kemiskinan di akhir zaman terutama saat materai ketiga dibuka. Ketahanan pangan sangat penting sebab bukan saja berbicara tentang persentase penghasilan yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan makanan dan minuman tetapi juga harus memperhatikan: Prevalence of Undernourishment (PoU), Food Insecurity Experience Scale (FIES), Dietary Energy Supply (DES) dan Household Food Consumption Score (HFCS).

TUHAN telah memberitahukan hal-hal yang akan terjadi di hari mendatang maka sebaiknya manusia mempersiapkan diri ketika saatnya ketahanan pangan ambruk dan kemiskinan diduga akan merajalela sebab hal itu mungkin terkait dengan pengenapan dari perumpamaan di dalam Lukas 14:15-24. Ketahanan pangan dengan kemiskinan di akhir zaman diduga sulit untuk ditiadakan tetapi yang dapat dilakukan hanyalah membuat sekecil mungkin dampak yang ditimbulkan dengan tetap hidup berjalan bersama TUHAN menyambut masa depan agar bila memungkinkan dapat bahagia hidup di bumi dan di surga.






Tulisan lainnya di werua blog:
Kendali harga Pangan
Kerawanan pangan Dalam Eskatologi
Lumbung Pangan Masa Kelaparan
Ancaman Kelaparan Dan Risiko Produksi Pangan Menurun
Sikap Yesus Terhadap "Food Waste" Dan Pengaruhnya
Pengaruh Inflasi Terhadap beban Hidup Dan Penderitaan
Pengeluaran Rumah Tangga
Pemeliharaan TUHAN
Sungai Menjadi Gurun, Fenomena Perubahan Iklim?
Akhir Zaman Bumi Semakin Tandus


Share this

Random Posts

Label Mobile

Dogmatika (75) Hermeneutika (77) Lainnya (96) Resensi buku (9) Sains (53) Sistimatika (71) Video (9) biblika (84) budaya (49) dasar iman (100) karakter (43) konseling (84) manajemen (71) pendidikan (59) peristiwa (71) sospol (66) spritualitas (92) tokoh alkitab (44)