Sebab Tuhan adalah Roh; dan dimana ada Roh Allah, disitu ada kemerdekaan 2 Korintus 3:17

Selasa, 25 Februari 2025

Makanan Mewah Manusia Miskin

"Katakanlah kepada orang Israel, begini: Inilah binatang-binatang yang boleh kamu makan dari segala binatang berkaki empat yang ada di atas bumi: Imamat 11:2

Daftar makanan kosher yang tercantum dalam Taurat dibandingkan dengan aneka makanan yang dapat dimakan manusia sangatlah kecil. Makanan kosher merupakan bagian kecil dari keseluruhan makanan yang tersedia di dunia. Rendahnya persentase makanan kosher disebabkan antara lain:
- Aturan yang ketat: Makanan kosher harus memenuhi aturan yang sangat ketat, mulai dari jenis hewan yang boleh dimakan, cara penyembelihan, hingga proses pengolahan dan penyajian.
- Sertifikasi: Makanan kosher harus mendapatkan sertifikasi dari lembaga rabi yang berwenang, yang membutuhkan biaya dan proses audit yang tidak mudah.
- Ketersediaan: Tidak semua tempat atau wilayah memiliki restoran atau toko yang menjual makanan kosher, sehingga ketersediaannya terbatas.
- Komunitas Yahudi: Makanan kosher terutama dikonsumsi oleh komunitas Yahudi yang jumlahnya relatif kecil dibandingkan dengan populasi dunia.

Persentasenya kecil, makanan kosher tetap memiliki tempat penting dalam budaya dan tradisi Yahudi. Makanan kosher bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga merupakan simbol identitas dan ketaatan agama. Hal yang menarik tentang makanan kosher lainnya adalah:
- Kata "kosher" berasal dari bahasa Ibrani yang berarti "layak" atau "sesuai".
- Aturan makanan kosher disebut dengan istilah "kashrut".
- Beberapa makanan yang umum dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian, secara alami dianggap kosher.
- Makanan kosher semakin populer di kalangan non-Yahudi karena dianggap lebih sehat dan berkualitas.
- Makanan kosher saat ini bebas dari makanan hasil rekayasa genetik atau Genetically Modified Organisms (GMO) karena dalam otoritas rabi ada suara penolakkan terhadap makanan hasil rekayasa genetika.

Makanan kosher adalah makanan yang memenuhi standar dan aturan diet tradisional Yahudi yang disebut kashrut. Kata "kosher" sendiri berasal dari bahasa Ibrani yang berarti "layak" atau "sesuai". Aturan makanan kosher sangat kompleks dan mencakup berbagai aspek, mulai dari jenis hewan yang boleh dimakan, cara penyembelihan, hingga bagaimana makanan tersebut diolah dan disajikan. Contoh:
- Hewan yang diizinkan: Hanya hewan-hewan tertentu yang boleh dimakan, seperti hewan memamah biak yang memiliki kuku belah (misalnya sapi, domba, dan kambing). Babi, kelinci, pelanduk, unta dan hewan lainnya yang tidak memenuhi kriteria ini tidak boleh dimakan.
- Penyembelihan: Hewan yang boleh dimakan harus disembelih oleh tukang sembelih yang terlatih (shochet) sesuai dengan aturan yang ketat. Penyembelihan harus dilakukan dengan pisau yang tajam dan bersih, dan hewan harus dalam keadaan sehat saat disembelih.
- Bagian tubuh: Beberapa bagian tubuh hewan, seperti lemak tertentu dan urat sciatic, tidak boleh dimakan.
- Pencampuran daging dan susu: Daging dan produk susu tidak boleh dicampur atau dimasak bersamaan. Peralatan dan wadah yang digunakan untuk daging dan susu juga harus terpisah.
- Makanan laut: Hanya ikan yang memiliki sirip dan sisik yang boleh dimakan. Kerang, udang, kepiting dan makanan laut lainnya tidak termasuk kosher.
- Buah-buahan dan sayuran: Pada dasarnya, semua buah dan sayuran kosher. Namun, ada beberapa aturan khusus terkait dengan penanaman dan panen hasil bumi.
- Anggur: Anggur dan produk anggur lainnya harus diproduksi dan ditangani oleh orang Yahudi untuk dianggap kosher.

Aturan makanan kosher di kalangan Yahudi merupakan suatu beban terutama kelompok penghasilan rendah atau yang masuk masyarakat miskin dan menjadi isu yang kompleks. Hal ini terjadi karena antara lain:

  • Masalah akses:
    - Biaya: Makanan kosher umumnya lebih mahal daripada makanan non-kosher. Hal ini disebabkan oleh proses sertifikasi yang ketat, bahan-bahan khusus yang mungkin diperlukan, dan rantai pasokan yang lebih terbatas. Akibatnya, orang miskin yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mungkin kesulitan membeli makanan kosher.
    - Ketersediaan: Ketersediaan makanan kosher juga dapat menjadi masalah, terutama di daerah-daerah di mana komunitas Yahudi kecil atau tidak ada. Orang miskin yang tinggal di daerah tersebut mungkin tidak memiliki akses ke toko atau restoran yang menjual makanan kosher.
  • Dampak Sosial:
    - Inklusi: Bagi orang Yahudi yang taat, makanan kosher bukan hanya masalah preferensi, tetapi juga bagian penting dari identitas agama dan budaya mereka. Orang miskin yang tidak mampu membeli makanan kosher mungkin merasa terkucil dari komunitas mereka dan tidak dapat berpartisipasi dalam acara-acara keagamaan atau sosial yang melibatkan makanan.
    - Stigma: Kemiskinan seringkali dikaitkan dengan stigma negatif. Orang miskin yang tidak mampu membeli makanan kosher mungkin menghadapi diskriminasi atau penilaian dari orang lain, yang dapat memperburuk perasaan terisolasi dan tidak berdaya.
  • Upaya Bantuan:
    - Organisasi amal: Beberapa organisasi amal Yahudi menyediakan bantuan makanan atau subsidi bagi orang miskin yang membutuhkan makanan kosher. Program-program ini dapat membantu meringankan beban ekonomi dan memastikan bahwa orang miskin tetap dapat memenuhi kebutuhan spiritual dan budaya mereka.
    - Dukungan komunitas: Komunitas Yahudi seringkali memiliki mekanismeinternal untuk saling membantu, termasuk dalam hal makanan. Anggota komunitas yang mampu dapat membantu mereka yang kurang mampu dengan menyediakan makanan kosher atau membantu mereka mengakses sumber makanan kosher yang terjangkau.

Aturan tentang makanan yang layak (kosher) dalam ajaran Yudaisme berdampak tidak hanya sebatas aspek keagamaan, tetapi juga meluas ke berbagai bidang lain, termasuk kesehatan, ekonomi, sosial, dan budaya. Contoh:

  • Kesehatan:
    - Gizi: Makanan kosher seringkali menekankan pada makanan segar, alami, dan tidak diproses, serta pembatasan daging berlemak serta otot. Pola makan ini dapat mendukung kesehatan jantung, mengurangi risiko penyakit kronis, dan meningkatkan asupan nutrisi penting.
    - Keamanan: Proses produksi makanan kosher diawasi dengan ketat untuk memastikan kebersihan dan kualitasnya, sehingga mengurangi risiko kontaminasi dan penyakit bawaan makanan.
    - Alergi dan intoleransi: Aturan pemisahan daging dan susu dalam makanan kosher dapat membantu mengurangi risiko gangguan pencernaan dan alergi makanan pada beberapa individu.
  • Ekonomi:
    - Industri makanan: Permintaan akan makanan kosher terus meningkat di seluruh dunia, menciptakan pasar yang signifikan bagi produsen, distributor, dan pengecer makanan.
    - Sertifikasi: Proses sertifikasi kosher melibatkan biaya dan audit yang dapat memberikan pendapatan bagi lembaga sertifikasi dan meningkatkan nilai jual produk.
    - Pariwisata: Makanan kosher menjadi faktor penting bagi wisatawan Yahudi yang mencari akomodasi dan restoran yang menyediakan makanan sesuai dengan keyakinan mereka.
  • Sosial:
    - Identitas budaya: Makanan kosher merupakan bagian penting dari identitas budaya dan tradisi masyarakat Yahudi.
    - Komunitas: Konsumsi makanan kosher seringkali dilakukan dalam konteks komunitas, memperkuat ikatan sosial dan rasa memiliki.
    - Keragaman: Makanan kosher dapat menjadi jembatan budaya yang menghubungkan masyarakat Yahudi dengan kelompok masyarakat lain yang tertarik dengan makanan sehat dan berkualitas.
  • Budaya:
    - Tradisi: Makanan kosher memiliki akar yang kuat dalam tradisi dan hukum agama Yahudi (Kashrut).
    - Simbolisme: Setiap jenis makanan dan aturan dalam makanan kosher memiliki makna simbolis yang mendalam.
    - Kuliner: Makanan kosher telah memberikan kontribusi pada keragaman kuliner dunia, dengan hidangan-hidangan khas seperti sup ayam, roti challah, dan gefilte fish.

Makanan yang layak merupakan barang mewah untuk masyarakat miskin. Hal ini terjadi bukan saja dalam ruang lingkup penganut agama Yudasime saja yang diperhadapkan pemilihan bahan pangan yang harus bersetifikasi kosher. Dengan terjegalnya (hingga saat kini) makanan hasil rekayasa genetika maka dapat dipastikan produk yang dimakan tidak ada yang murah. Lalu bagaimana dengan makanan di Indonesia? Makanan yang layak adalah makanan yang bergizi seimbang sehingga tidak bertumpu kepada karbohidrat dalam memenuhi kebutuhan gizi dan energi. Pemenuhan energi dan gizi yang tidak mengantungkan semata-mata kepada karbohidrat merupakan sesuatu kemewahan bagi orang miskin yang mementingkan perut kenyang dan kecukupan energi semata.

Terdapat hubungan yang erat antara makanan yang layak dikunsumsi dengan masalah kemiskinan sehingga ada benang merah antara mengentaskan masalah kemiskinan dengan pemberian makanan bergizi. Kemiskinan seringkali menjadi penghalang utama bagi seseorang atau keluarga untuk mengakses makanan bergizi. Keluarga miskin biasanya memiliki keterbatasan ekonomi untuk membeli makanan yang cukup dan berkualitas. Akibatnya, mereka cenderung mengonsumsi makanan yang murah dan kurang bergizi, seperti nasi dan mie instan. Dampak kekurangan gizi akibat kemiskinan adalah terjadinya kekurangan gizi kronis dan berdampak antara lain:
- Stunting: Kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis sejak dalam kandungan hingga usia 2 tahun. Stunting dapat menyebabkan gangguan perkembangan fisik dan kognitif yang bersifat permanen.
- Wasting: Kondisi kurus dan kekurangan berat badan akibat kekurangan gizi akut. Wasting membuat anak-anak lebih rentan terhadap penyakit dan kematian.
- Kekurangan Vitamin dan Mineral: Kekurangan zat gizi mikro seperti zat besi, vitamin A, dan yodium dapat menyebabkan anemia, gangguan penglihatan, gangguan fungsi kognitif, dan masalah kesehatan lainnya.

Kemiskinan dan kekurangan gizi membentuk lingkaran setan yang sulit diputus. Kekurangan gizi pada anak-anak dapat mengganggu perkembangan kognitif mereka, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk meraih pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik di masa depan. Hal ini dapat melanggengkan kemiskinan dari generasi ke generasi. Jika terikat aturan kosher maka orang miskin semakin tertekan karena tidak dapat mengunakan hasil rekayasa genetik termasuk hewan yang tidak bersisik seperti ikan lele, ikan teri dan hal-hal lainnya.

Mengentaskan masalah kemiskinan dan pemberian makanan bergizi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pemberian makanan bergizi merupakan investasi penting dalam sumber daya manusia, yang pada akhirnya akan berkontribusi pada pembangunan ekonomi dan sosial yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Pemberian makanan bergizi merupakan salah satu intervensi penting untuk mengatasi masalah kemiskinan dan kekurangan gizi. Program-program seperti pemberian makanan tambahan, subsidi pangan, dan edukasi gizi dapat membantu keluarga miskin mengakses makanan yang cukup dan bergizi. Manfaat Pemberian Makanan Bergizi yaitu:
- Mencegah Stunting dan Wasting: Pemberian makanan bergizi, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK), dapat mencegah stunting dan wasting pada anak-anak.
- Meningkatkan Kesehatan dan Daya Tahan Tubuh: Makanan bergizi memperkuat sistem kekebalan tubuh, membuat anak-anak lebih tahan terhadap penyakit.
- Meningkatkan Kemampuan Kognitif: Gizi yang cukup dan baik mendukung perkembangan otak dan kemampuan kognitif anak-anak, yang penting untuk keberhasilan di sekolah dan di kemudian hari.
- Memutus Lingkaran Setan Kemiskinan: Dengan mengatasi kekurangan gizi, kita dapat membantu anak-anak tumbuh dan berkembang secara optimal, sehingga mereka memiliki peluang lebih baik untuk keluar dari kemiskinan di masa depan.

Makanan layak untuk manusia adalah kemewahan bagi masyarakat miskin. Makanan layak bergizi haruslah memenuhi standar seperti:
- Cukup dan Beragam: Makanan yang dikonsumsi harus cukup jumlahnya untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi, serta beragam jenisnya untuk memastikan asupan zat gizi makro dan mikro yang lengkap.
- Seimbang: Komposisi makanan harus seimbang antara karbohidrat, protein, dan lemak, serta mengandung cukup vitamin dan mineral.
- Aman: Makanan harus aman untuk dikonsumsi, bebas dari kontaminasi fisik, kimia, dan biologis yang dapat membahayakan kesehatan.
- Berkelanjutan: Produksi dan konsumsi makanan harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan dan sistem pangan.
- Adil: Semua orang memiliki akses yang sama terhadap makanan bergizi.
- Kearifan Lokal: Mempertimbangkan kearifan lokal terkait pangan dan gizi.

Makanan bergizi bagi manusia miskin sulit menghindari dari makanan hasil rekayasa genetik atau Genetically Modified Organisms (GMO) telah menjadi bagian dari konsumsi manusia selama beberapa dekade. Hal yang menjadi pertimbangan makanan hasil rekayasa genetik diantaranya:

  • Harga makanan dari hasil rekayasa genetik cenderung lebih murah:
    - Efisiensi Produksi: Tanaman GMO biasanya dirancang untuk tahan terhadap hama, penyakit, dan kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan. Hal ini membuat hasil panen lebih tinggi dan mengurangi risiko gagal panen. Produktivitas yang lebih tinggi ini memungkinkan petani untuk menghasilkan lebih banyak produk dengan biaya yang lebih rendah.
    - Pengurangan Biaya Produksi: Karena tanaman GMO lebih tahan terhadap hama dan penyakit, petani tidak perlu menggunakan pestisida atau herbisida dalam jumlah yang banyak. Hal ini mengurangi biaya produksi dan membuat harga jual produk GMO menjadi lebih murah.
    - Skala Ekonomi: Produksi tanaman GMO seringkali dilakukan dalam skala besar dengan menggunakan teknologi modern. Skala ekonomi ini memungkinkan biaya produksi per unit menjadi lebih rendah, sehingga harga jual produk GMO juga lebih murah.
    - Persaingan Harga: Harga produk GMO yang lebih murah juga dipengaruhi oleh persaingan harga dengan produk non-GMO dan organik. Produsen GMO berusaha untuk menawarkan harga yang lebih menarik bagi konsumen, sehingga mereka dapat bersaing di pasar.
    - Subsidi Pemerintah: Di beberapa negara, pemerintah memberikan subsidi kepada petani yang menanam tanaman GMO. Subsidi ini dapat membantu menurunkan biaya produksi dan membuat harga jual produk GMO menjadi lebih murah.
  • Manfaat Potensial Makanan Rekayasa Genetik:
    - Peningkatan Nilai Gizi: Beberapa tanaman hasil rekayasa genetik dirancang untuk memiliki kandungan nutrisi yang lebih tinggi, seperti vitamin, mineral, atau asam lemak tertentu.
    - Ketahanan Terhadap Hama dan Penyakit: Tanaman GMO dapat direkayasa agar tahan terhadap serangan hama dan penyakit, mengurangi kebutuhan penggunaan pestisida.
    - Peningkatan Hasil Panen: Tanaman GMO seringkali menghasilkan panen yang lebih besar dibandingkan tanaman konvensional, membantu mengatasi masalah kekurangan pangan.
    - Pengurangan Penggunaan Pestisida: Karena tanaman GMO lebih tahan terhadap hama, penggunaan pestisida dapat dikurangi, yang berdampak positif bagi lingkungan dan kesehatan manusia.
    - Adaptasi Terhadap Kondisi Lingkungan: Beberapa tanaman GMO dirancang untuk tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem, seperti kekeringan atau salinitas tinggi.
  • Potensi Risiko Makanan Rekayasa Genetik:
    - Reaksi Alergi: Beberapa orang khawatir bahwa makanan GMO dapat memicu reaksi alergi pada individu yang sensitif.
    - Resistensi Antibiotik: Ada kekhawatiran bahwa gen resisten antibiotik yang dimasukkan ke dalam tanaman GMO dapat berpindah ke bakteri di usus manusia, mengurangi efektivitas antibiotik.
    - Efek Jangka Panjang yang Tidak Diketahui: Karena makanan GMO relatif baru, efek jangka panjang konsumsinya pada kesehatan manusia belum sepenuhnya dipahami.
    - Perubahan Genetik yang Tidak Terduga: Beberapa orang khawatir bahwa rekayasa genetik dapat menyebabkan perubahan genetik yang tidak terduga pada tanaman, yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia.

Makanan mewah bagi manusia miskin biasanya cukup puas bila makanan yang disajikan adalah makanan yang layak dimakan. Orang miskin tidak berharap tersaji seperti kobe beef atau makanan yang bertaburkan butiran serbuk emas. Alkitab mengajarkan prinsip-prinsip penting tentang bagaimana seharusnya orang Kristen memperlakukan orang miskin, tunawisma dan gelandangan, terutama dalam hal memberikan makanan yang bergizi, yaitu:
- Alkitab menekankan pentingnya kasih dan belas kasihan terhadap sesama, termasuk mereka yang hidup dalam kemiskinan dan kekurangan. Yesus sendiri memberikan contoh dengan berinteraksi dan membantu orang-orang yang terpinggirkan, termasuk orang miskin dan lapar. Lihat di Matius 25:35-40 yang menggambarkan bagaimana tindakan memberi makan dan minum kepada mereka yang lapar dan haus dianggap sebagai tindakan yang dilakukan kepada Kristus sendiri.
- Alkitab mengajarkan tentang keadilan dan kepedulian terhadap orang-orang yang kurang beruntung. Perhatikan Ulangan 15:7-8 memerintahkan orang Israel untuk membuka tangan mereka bagi orang miskin dan memberikan pinjaman dengan murah hati dan juga Amsal 29:7 mengatakan bahwa "orang benar memperhatikan hak-hak orang miskin, tetapi orang fasik tidak mengerti hal itu."
Kemurahan Hati dan Memberi: - Alkitab mendorong orang Kristen untuk bermurah hati dan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Perhatikan seperti di Amsal 19:17 mengatakan bahwa "siapa yang menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, dan TUHAN akan membalas perbuatannya itu." atau 2 Korintus 9:7 mengajarkan bahwa setiap orang harus memberi sesuai dengan kerelaan hatinya, bukan dengan sedih hati atau paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.
- Alkitab menekankan pentingnya solidaritas dan tanggung jawab bersama dalam membantu mereka yang membutuhkan. Lihat di Kisah Para Rasul 2:44-45 menggambarkan bagaimana jemaat mula-mula menjual harta benda mereka dan membagikannya kepada semua orang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Meskipun tidak harus mengikuti contoh ini secara harfiah, prinsipnya adalah bahwa orang Kristen harus bersedia membantu sesama mereka yang kekurangan.

Memberi makanan yang layak bagi yang mengharapkan makan sesuai standar gizi dan kalori dalam Alkitab harus dilakukan dengan kasih dan ketulusan yang berbeda nuansanya dengan janji program kampanye bersifat tidak ada yang benar-benar gratis. Alkitab memberikan panduan yang jelas tentang bagaimana seharusnya orang Kristen memperlakukan tunawisma dan gelandangan. Prinsip-prinsip kasih, belas kasihan, keadilan, kemurahan hati, dan solidaritas mendorong orang Kristen untuk memberikan bantuan praktis, termasuk makanan bergizi, kepada mereka yang membutuhkan. Selain itu, Alkitab juga menekankan pentingnya mengubah persepsi dan sikap terhadap tunawisma dan gelandangan, serta mengadvokasi kebijakan yang mendukung mereka.

Program berdasarkan materi kampanye pemilu tercetus makan bergizi gratis. Sebuah sumber menyatakan program MBG (makanan bergizi gratis) tercatat berhasil memberi makan 570 ribu anak sekolah dengan 190 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di 26 Provinsi di Indonesia. Adapun hingga akhir Januari 2025 program MBG telah diimplementasikan di 31 provinsi dengan total SPPG selaku unit pengelola dan pelaksana program MBG di lapangan telah beroperasi sebanyak 238 unit. Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan hingga April 2025 program MBG akan melayani sebanyak 3 juta penerima manfaat dengan melibatkan 932 SPPG. Juru bicara Istana, Adita Irawati, mengatakan MBG akan menyasar sekitar 600.000 orang di wilayah perkotaan dan kabupaten yang sudah pernah menjalankan uji coba dalam beberapa bulan terakhir. Angka itu sedianya jauh dari target awal Badan Gizi Nasional yang menyasar 3 juta anak di tiga bulan pertama. Anggaran yang disediakan dari APBN 71 Trilyun yang kabar lanjutannya ada bantuan dari pemerintahan China tetapi tidak gratis.

Program pemerintah ditujukan kepada anak yang sekolah dan atau ibu hamil belum menyentuh orang miskin kalangan pria, tunawisma dan gelandangan. Hal yang dapat dipertimbangkan dengan target menyentuh orang miskin antara lain:
- Mengorganisir dapur umum atau acara makan bersama.
- Menyumbangkan makanan kepada organisasi yang melayani tunawisma.
- Memberikan makanan secara langsung kepada individu yang membutuhkan.
- Mendukung organisasi yang melayani tunawisma: Ada banyak organisasi yang bekerja untuk membantu tunawisma dan gelandangan. Orang Kristen dapat mendukung organisasi-organisasi ini melalui donasi, sukarelawan, atau doa.
- Mengadvokasi kebijakan yang mendukung tunawisma: Orang Kristen dapat menggunakan suara mereka untuk mengadvokasi kebijakan publik yang mendukung tunawisma dan gelandangan, seperti penyediaan perumahan yang terjangkau, akses ke perawatan kesehatan, dan program-program pelatihan kerja.
- Mengubah persepsi dan sikap: Orang Kristen juga perlu mengubah persepsi dan sikap mereka terhadap tunawisma dan gelandangan. Alih-alih menghakimi atau menjauhi mereka, orang Kristen harus menunjukkan kasih, belas kasihan, dan rasa hormat.

Makanan yang layak dengan memperhatikan kalori dan gizi menjadi bahan kampanye pemilihan presiden. Sebuah sumber menyatakan program MBG (makanan bergizi gratis) tercatat berhasil memberi makan 570 ribu anak sekolah dengan 190 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di 26 Provinsi di Indonesia. Adapun hingga akhir Januari 2025 program MBG telah diimplementasikan di 31 provinsi dengan total SPPG selaku unit pengelola dan pelaksana program MBG di lapangan telah beroperasi sebanyak 238 unit. Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan hingga April 2025 program MBG akan melayani sebanyak 3 juta penerima manfaat dengan melibatkan 932 SPPG. Sumber lain yaitu juru bicara Istana, Adita Irawati, mengatakan MBG akan menyasar sekitar 600.000 orang di wilayah perkotaan dan kabupaten yang sudah pernah menjalankan uji coba dalam beberapa bulan terakhir. Angka itu sedianya jauh dari target awal Badan Gizi Nasional yang menyasar 3 juta anak di tiga bulan pertama. Anggaran yang disediakan dari APBN 71 Trilyun yang kabar lanjutannya ada bantuan dari pemerintahan China tetapi tidak gratis.

Untuk dapat keluar dari siklus kemiskinan diperlukan asupan yang baik bagi seluruh organ tubuh manusia. Dari organ otak / syaraf hingga seluruh jaringan tubuh terpenuhi kebutuhan gizi dan kalori. Makanan layak bagi kita saat ini tidak mengikuti model yang diterapkan kalangan Yudaisme sehingga lebih terjangkau.






Tulisan lainnya di werua blog:
Perilaku Gangguan Makan Orang Dewasa
Kerawanan pangan Dalam Eskatologi
Anak terlantar Dan Pertolongannya
Ancaman Kelaparan Dan Risiko Produksi Pangan Menurun
Sikap Yesus Terhadap "Food Waste" Dan Pengaruhnya
Tinjauan Memasak Israel Kuno
Manusia Dan Makanannya
Zaman Nabi Nuh Tiba Kembali
Waspada Bila Besar Nafsu Makan
Ketahanan Pangan Dengan Kemiskinan di Akhir Zaman


Share this

Random Posts

Label Mobile

Dogmatika (75) Hermeneutika (77) Lainnya (96) Resensi buku (9) Sains (53) Sistimatika (71) Video (9) biblika (84) budaya (49) dasar iman (100) karakter (43) konseling (84) manajemen (71) pendidikan (59) peristiwa (71) sospol (66) spritualitas (92) tokoh alkitab (44)