Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, Lukas 16:20
Lazarus seorang pengemis mengalami masalah kesehatan berupa borok seperti yang tertulis dalam Textus Receptus, Byzantine dan Greek Orthodox. Kata borok - ἡλκωμένος memiliki makna: melukai, membuat borok, menyebabkan luka. Di dunia Yunani-Romawi kuno, luka dan bisul merupakan hal yang umum karena kurangnya perawatan medis tingkat lanjut dan maraknya penyakit dalam konteks penderitaan fisik dan kebutuhan akan penyembuhan. Di zaman Alkitab, penyakit fisik sering kali dipandang sebagai manifestasi dari masalah spiritual atau moral, dan penyembuhan merupakan masalah fisik dan spiritual.
Pendekatan ilmu medis saat ini memandang "Borok" sebagai istilah umum yang sering digunakan untuk menggambarkan luka terbuka pada kulit yang sulit sembuh. Secara medis, borok dapat disebabkan oleh berbagai kondisi yang dapat menyebabkan borok, seperti:
- Ulkus Vena yaitu jenis borok kaki yang paling umum, disebabkan oleh masalah pada pembuluh darah vena yang mengalirkan darah kembali ke jantung.
Akibatnya, darah menumpuk di kaki, menyebabkan pembengkakan dan kerusakan kulit.
- Ulkus Arteri karena penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah arteri yang mengalirkan darah ke kaki. Kekurangan aliran darah menyebabkan jaringan kulit mati dan membentuk borok.
- Ulkus Diabetikum yaitu borok kaki karena kerusakan saraf dan pembuluh darah akibat kadar gula darah yang tinggi. Borok ini seringkali sulit sembuh karena gangguan aliran darah dan sistem kekebalan tubuh yang melemah.
- Infeksi bakteri, jamur, atau virus dapat menyebabkan luka terbuka yang berkembang menjadi borok. Infeksi dapat memperlambat penyembuhan dan menyebabkan komplikasi serius.
- Kanker Kulit dapat muncul sebagai borok yang tidak sembuh-sembuh.
- Penyakit Autoimun seperti lupus atau rheumatoid arthritis dapat menyebabkan borok kulit akibat serangan sistem kekebalan tubuh pada jaringan kulit.
Permasalahan yang menyebabkan borok antara lain:
- Tekanan yang berkepanjangan pada kulit, misalnya akibat berbaring atau duduk terlalu lama, dapat menyebabkan luka tekan atau dekubitus.
- Cedera atau luka yang tidak dirawat dengan benar dapat terinfeksi dan berkembang menjadi borok.
- Kekurangan nutrisi dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan memperlambat penyembuhan luka, meningkatkan risiko borok.
- Kurangnya kebersihan dapat meningkatkan risiko infeksi dan memperlambat penyembuhan luka.
Berpikir sederhana maka Lazarus seorang tunawisma rentan mengalami masalah penyakit kulit karena beberapa faktor yang saling berkaitan, seperti:
- Kondisi Kebersihan yang Buruk:
- Tunawisma seringkali tidak memiliki akses terhadap fasilitas mandi, cuci pakaian, dan sanitasi yang memadai. Kondisi ini menyebabkan penumpukan kotoran, keringat, dan bakteri pada kulit, yang dapat memicu berbagai penyakit kulit.
- Lingkungan tempat mereka tinggal, seperti kolong jembatan atau pinggir jalan, seringkali kotor dan lembap, yang juga mendukung pertumbuhan bakteri dan jamur. - Paparan Lingkungan:
- Tunawisma seringkali terpapar langsung oleh sinar matahari, debu, polusi, dan cuaca ekstrem. Paparan ini dapat merusak kulit dan membuatnya lebih rentan terhadap infeksi.
- Gigitan serangga, seperti kutu dan tungau, juga sering terjadi pada tunawisma, yang dapat menyebabkan gatal-gatal dan iritasi kulit. - Kondisi Kesehatan yang Buruk:
- Banyak tunawisma mengalami masalah gizi, yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan membuat kulit lebih rentan terhadap infeksi.
- Mereka juga rentan terhadap penyakit lain, seperti infeksi HIV/AIDS, yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan berbagai masalah kulit. - Akses Terbatas ke Perawatan Kesehatan karena tunawisma seringkali tidak memiliki akses terhadap perawatan kesehatan yang memadai, termasuk perawatan kulit. Hal ini menyebabkan penyakit kulit mereka tidak diobati atau diobati dengan tidak tepat, sehingga menjadi lebih parah.
Selain penyakit kulit, tunawisma juga rentan terhadap berbagai penyakit lain akibat kondisi kehidupan mereka yang keras dan kurangnya akses terhadap perawatan kesehatan. Beberapa penyakit yang umum menyerang kalangan tunawisma:
- Penyakit Pernapasan:
- Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), seperti pilek dan flu, sangat umum terjadi karena paparan cuaca ekstrem dan kurangnya kebersihan.
- Tuberkulosis (TB) juga menjadi masalah serius karena kepadatan tempat tinggal dan kurangnya ventilasi.
- Pneumonia, infeksi paru-paru, juga sering terjadi akibat sistem kekebalan tubuh yang lemah. - Penyakit Pencernaan:
- Diare dan penyakit bawaan makanan sering terjadi akibat kurangnya akses terhadap air bersih dan sanitasi yang buruk.
- Malnutrisi juga umum terjadi, menyebabkan berbagai masalah kesehatan dan melemahkan sistem kekebalan tubuh. - Penyakit Mental:
- Depresi, kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD) sering terjadi akibat kondisi kehidupan yang sulit dan traumatis.
- Penyalahgunaan zat, seperti alkohol dan narkoba, juga umum terjadi sebagai mekanisme koping./li> - Penyakit Kaki karena sering berjalan tanpa alas kaki yang memadai, tunawisma rentan terhadap infeksi jamur, luka, dan masalah kaki lainnya.
- Penyakit Kronis:
- Penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung sering tidak terdiagnosis atau tidak diobati, yang dapat menyebabkan komplikasi serius.
- HIV/AIDS, karena mereka yang berada di jalanan, rentan terhadap tindakan yang kurang sehat.
Salah satu program badan kesehatan dunia dalam hal lingkungan yang memiliki kontribusi mencegah timbulnya borok adalah "Global Action Plan on Health and Environment (Rencana Aksi Global untuk Kesehatan dan Lingkungan)" sebagai inisiatif yang dipimpin oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengatasi dampak lingkungan terhadap kesehatan manusia. Rencana ini bertujuan untuk mengurangi beban penyakit yang disebabkan oleh faktor lingkungan, seperti polusi udara, air yang tidak aman, sanitasi yang buruk, dan paparan bahan kimia berbahaya. Standar pola kerja dalam rencana ini mencakup prinsip-prinsip, strategi, dan kerangka kerja yang harus diikuti untuk mencapai tujuan tersebut.
Standar pola kerja dari Global Action Plan on Health and Environment:
- Prinsip Dasar:
- Pendekatan Holistik: Mengintegrasikan kesehatan dan lingkungan dalam kebijakan dan program.
- Keadilan (Equity): Memastikan bahwa intervensi menjangkau populasi yang paling rentan, termasuk kelompok marginal seperti tunawisma.
- Berbasis Bukti (Evidence-Based): Menggunakan data dan penelitian untuk menginformasikan kebijakan dan tindakan.
- Kolaborasi Multisektor: Melibatkan berbagai sektor, termasuk kesehatan, lingkungan, pertanian, dan energi, untuk mencapai hasil yang optimal. - Standar Pola Kerja:
- a. Identifikasi dan Analisis Masalah seperti pemetaan risiko lingkungan yang memengaruhi kesehatan, seperti polusi udara, air yang terkontaminasi, dan paparan bahan kimia dengan menilai dampak kesehatan dari faktor lingkungan, termasuk penyakit pernapasan, diare, dan kanker melalui mengumpulkan data terpilah (disaggregated data) untuk memahami dampak lingkungan pada kelompok rentan, seperti anak-anak, orang tua, dan tunawisma.
- b. Perencanaan dan Implementasi seperti mengembangkan kebijakan yang menggabungkan pertimbangan kesehatan dan lingkungan, seperti kebijakan pengurangan polusi udara atau pengelolaan limbah melalui merancang intervensi yang efektif berdasarkan bukti ilmiah, seperti program penyediaan air bersih atau kampanye pengurangan polusi dengan melibatkan komunitas lokal dalam perencanaan dan implementasi program untuk memastikan relevansi dan keberlanjutan.
- c. Monitoring dan Evaluasi seperti menggunakan indikator untuk memantau kemajuan, seperti penurunan tingkat polusi udara atau peningkatan akses ke air bersih melalui penilaian dampak intervensi terhadap kesehatan dan lingkungan, termasuk pengurangan penyakit dan peningkatan kualitas lingkungan dengan menggunakan hasil evaluasi untuk memperbaiki dan menyesuaikan program.
- d. Advokasi dan Kesadaran seperti meningkatkan kesadaran masyarakat tentang hubungan antara kesehatan dan lingkungan melalui kampanye edukasi dengan mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mengadopsi kebijakan yang mendukung kesehatan dan lingkungan. - Strategi Implementasi:
- Pendekatan Multisektor: Bekerja sama dengan berbagai sektor, termasuk kesehatan, lingkungan, pertanian, dan energi, untuk mengatasi masalah yang kompleks.
- Pemberdayaan Komunitas: Memberdayakan komunitas lokal untuk mengambil peran aktif dalam meningkatkan kesehatan dan lingkungan mereka.
- Pendidikan dan Pelatihan: Menyediakan pendidikan dan pelatihan tentang kesehatan lingkungan bagi petugas kesehatan, pemerintah, dan masyarakat. - Contoh Kerangka Kerja yang biasa digunakan dalam Global Action Plan on Health and Environment meliputi:
- One Health Approach: Mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam satu kerangka kerja.
- Sustainable Development Goals (SDGs): Mengacu pada tujuan global, seperti SDG 3 (Kesehatan yang Baik) dan SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi).
- Health in All Policies (HiAP): Mengintegrasikan pertimbangan kesehatan dalam semua kebijakan publik. - Indikator Keberhasilan:
- Penurunan Beban Penyakit: Mengurangi jumlah penyakit yang disebabkan oleh faktor lingkungan, seperti penyakit pernapasan dan diare.
- Peningkatan Kualitas Lingkungan: Meningkatnya kualitas udara, air, dan tanah.
- Peningkatan Akses ke Layanan Dasar: Meningkatnya akses ke air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan.
- Kepuasan Komunitas: Umpan balik positif dari komunitas tentang intervensi yang dilakukan. - Contoh Praktik Terbaik:
- Program Penyediaan Air Bersih: Menyediakan akses ke air bersih dan sanitasi yang aman di komunitas yang rentan.
- Kampanye Pengurangan Polusi Udara: Menerapkan kebijakan dan program untuk mengurangi polusi udara, seperti penggunaan energi bersih dan transportasi ramah lingkungan.
- Pengelolaan Limbah Berbahaya: Meningkatkan pengelolaan limbah berbahaya untuk mengurangi paparan bahan kimia beracun.
Program dan pendekatan lainnya yang relevan dengan kesehatan tunawisma yang didukung atau diadvokasi oleh WHO antara lain:
- Universal Health Coverage (UHC) yang bertujuan memastikan bahwa semua orang, termasuk tunawisma, memiliki akses ke layanan kesehatan esensial tanpa mengalami kesulitan finansial. Ini termasuk layanan kesehatan primer, pencegahan penyakit, dan perawatan kesehatan mental.
- Primary Health Care (PHC) yang bertujuan memperkuat layanan kesehatan dasar yang terjangkau dan mudah diakses seperti pengembangan layanan kesehatan primer yang ramah tunawisma, seperti klinik keliling (mobile clinics), layanan kesehatan di tempat penampungan, dan program outreach untuk menjangkau mereka yang tidak memiliki akses ke fasilitas kesehatan.
- Health Equity Initiatives yang bertujuan mengurangi ketidaksetaraan kesehatan dengan fokus pada populasi yang paling rentan, seperti kemiskinan, perumahan, dan akses ke sanitasi, yang secara langsung memengaruhi kesehatan tunawisma.
- Mental Health and Substance Abuse Programs yang bertujuan meningkatkan akses ke layanan kesehatan mental dan pengobatan untuk penyalahgunaan zat yaitu menyediakan layanan kesehatan mental dan rehabilitasi bagi tunawisma yang mengalami gangguan mental atau kecanduan zat.
- Infectious Disease Control yang bertujuan mencegah dan mengendalikan penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC), HIV/AIDS, dan hepatitis dengan mendorong program vaksinasi, skrining, dan pengobatan penyakit menular yang sering terjadi di kalangan tunawisma.
- Housing and Health Initiatives yaitu mengakui perumahan sebagai determinan kunci kesehatan sehingga mendorong memberi prioritas penyediaan perumahan stabil sebagai langkah pertama untuk meningkatkan kesehatan tunawisma.
- Health in All Policies (HiAP) dengan mendorong integrasi pertimbangan kesehatan dalam semua kebijakan publik, termasuk kebijakan perumahan, sosial, dan ekonomi termasuk mengatasi akar penyebab tunawisma, seperti kemiskinan dan ketiadaan perumahan, yang berdampak pada kesehatan.
- Technical Support and Capacity Building yang bertujuan memberikan dukungan teknis dan pelatihan kepada negara-negara untuk mengembangkan program kesehatan yang inklusif dalam merancang dan melaksanakan program kesehatan yang menjangkau populasi rentan, termasuk tunawisma.
- Advocacy and Awareness Campaigns yaitu meningkatkan kesadaran tentang masalah kesehatan yang dihadapi oleh populasi rentan dengan mendorong pemerintah serta masyarakat untuk mengambil tindakan.
Masalah kesehatan secara fisik atau tubuh seorang tunawisma memerlukan perhatian khusus karena mereka menghadapi berbagai kendala yang signifikan dalam upaya mereka untuk menjaga kesehatan fisik. Kendala-kendala ini seringkali saling terkait dan menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Contoh:
- Kurangnya Akses ke Layanan Kesehatan:
- Tidak Memiliki Asuransi Kesehatan: Banyak tunawisma tidak memiliki asuransi kesehatan, sehingga mereka tidak mampu membayar perawatan medis.
- Tidak Memiliki Dokumen Identitas: Tanpa identitas resmi, tunawisma seringkali tidak dapat mengakses layanan kesehatan publik.
- Ketidaktahuan tentang Layanan yang Tersedia: Kurangnya informasi tentang layanan kesehatan gratis atau murah dapat menghalangi mereka untuk mendapatkan perawatan. - Kondisi Lingkungan yang Tidak Sehat:
- Paparan Cuaca Ekstrem: Hidup di luar ruangan membuat tunawisma rentan terhadap hipotermia, hipertermia, dan penyakit terkait cuaca lainnya.
- Sanitasi yang Buruk: Kurangnya akses ke toilet bersih, air minum yang aman, dan fasilitas mandi meningkatkan risiko penyakit menular.
- Lingkungan yang Tidak Aman: Tinggal di tempat-tempat yang tidak aman dapat menyebabkan cedera fisik dan kekerasan. - Gizi Buruk:
- Kesulitan Mendapatkan Makanan Bergizi: Tunawisma seringkali bergantung pada makanan yang disumbangkan, yang mungkin tidak memenuhi kebutuhan gizi mereka.
- Keterbatasan Dana: Kurangnya uang untuk membeli makanan sehat membuat mereka mengonsumsi makanan murah yang kurang bergizi. - Masalah Kesehatan Kronis yang Tidak Terkelola:
- Kurangnya Perawatan Rutin: Kondisi kronis seperti diabetes, hipertensi, dan HIV/AIDS seringkali tidak terdiagnosis atau tidak terkontrol karena kurangnya perawatan medis rutin.
- Ketidakmampuan Mengikuti Rencana Perawatan: Ketidakstabilan hidup membuat sulit untuk mengikuti rencana perawatan atau minum obat secara teratur. - Stres dan Kesehatan Mental:
- Stres Kronis: Kehidupan di jalanan penuh dengan ketidakpastian dan bahaya, yang dapat menyebabkan stres kronis dan melemahkan sistem kekebalan tubuh.
- Penyalahgunaan Zat: Banyak tunawisma yang menggunakan alkohol atau narkoba sebagai cara untuk mengatasi stres, yang dapat memperburuk kondisi kesehatan fisik. - Isolasi Sosial dan Stigma:
- Stigma dan Diskriminasi: Stigma sosial dapat membuat tunawisma enggan mencari bantuan medis atau dukungan sosial.
- Kurangnya Dukungan Sosial: Tanpa dukungan dari keluarga atau teman, tunawisma mungkin merasa sulit untuk mengatasi masalah kesehatan mereka. - Keterbatasan Mobilitas:
- Kesulitan Transportasi: Kurangnya akses ke transportasi dapat menghalangi tunawisma untuk mencapai fasilitas kesehatan.
- Kondisi Fisik yang Menghambat: Penyakit atau cedera dapat membuat sulit bagi tunawisma untuk berjalan atau bergerak, sehingga menghambat akses mereka ke layanan kesehatan. - Ketidakstabilan Tempat Tinggal:
- Tidak Ada Tempat yang Aman untuk Istirahat: Kurangnya tempat yang aman dan stabil untuk tidur dapat mengganggu pemulihan dari penyakit atau cedera.
- Pengusiran dan Ketidakpastian: Sering berpindah-pindah atau diusir dari tempat tinggal sementara dapat mengganggu akses ke perawatan kesehatan. - Keterbatasan Pendidikan Kesehatan:
- Kurangnya Pengetahuan tentang Kesehatan: Banyak tunawisma mungkin tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang cara menjaga kesehatan atau mencegah penyakit.
- Kesulitan Mengakses Informasi: Kurangnya akses ke internet atau sumber informasi lainnya dapat menghambat upaya mereka untuk mendapatkan informasi kesehatan. - Beban Finansial, meskipun ada layanan kesehatan gratis atau murah, biaya transportasi atau biaya lain yang terkait dengan perawatan kesehatan dapat menjadi penghalang.
Sejumlah kebijakan yang dirancang untuk orang miskin dan terpinggirkan termasuk mereka yang berada di tempat kumuh dan tunawisma berharap mereka yang tergolong rentan memiliki tubuh yang sehat dengan harapan seperti:
- Peningkatan Kualitas Hidup: Kesehatan yang baik memungkinkan tunawisma untuk menjalani hidup yang lebih nyaman dan bermartabat. Mereka tidak lagi harus berjuang melawan penyakit atau kondisi kesehatan yang membatasi aktivitas mereka sehari-hari.
- Kemampuan untuk Bekerja dan Mandiri: Kesehatan yang prima membuka peluang bagi tunawisma untuk mencari pekerjaan dan menjadi mandiri secara finansial. Mereka dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal.
- Kesempatan untuk Membangun Kembali Hidup: Kesehatan yang baik adalah modal penting bagi tunawisma untuk membangun kembali hidup mereka. Mereka dapat fokus pada upaya untuk mendapatkan pendidikan, pelatihan keterampilan, atau mencari dukungan sosial untuk keluar dari situasi tunawisma.
- Partisipasi Aktif dalam Masyarakat: Tunawisma yang sehat dapat berpartisipasi lebih aktif dalam masyarakat. Mereka dapat menjadi sukarelawan, membantu sesama, atau terlibat dalam kegiatan-kegiatan komunitas lainnya.
- Kesehatan Mental yang Lebih Baik: Kesehatan fisik yang baik juga berkontribusi pada kesehatan mental yang lebih baik. Tunawisma yang sehat cenderung lebih bahagia, lebih percaya diri, dan memiliki harapan untuk masa depan.
- Mengurangi Beban Masyarakat: Jika tunawisma sehat dan mandiri, mereka tidak lagi menjadi beban bagi masyarakat. Mereka tidak perlu bergantung pada bantuan sosial atau layanan kesehatan yang mahal.
- Potensi untuk Berkembang: Kesehatan yang baik memungkinkan tunawisma untuk mengembangkan potensi diri mereka. Mereka dapat belajar, berkreasi, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Dalam kisah di Kitab Injil diceritakan bahwa Lazarus seorang tunawisma alami kematian lebih cepat daripada orang kaya yang memberikan sisa makanannya. Lazarus yang miskin tidak diperhatikan kesehatannya. Perhatian terhadap borok yang dialami Lazarus hadir melalui perhatian yang diberikan anjing-anjing peliharaan orang kaya. Manusia yang kaya dalam kisah Lazarus melupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam hal kesehatan, seperti:
- Kesehatan adalah hak setiap orang, termasuk tunawisma.
- Masyarakat memiliki tanggung jawab untuk membantu tunawisma mencapai kesehatan yang optimal.
- Upaya untuk meningkatkan kesehatan tunawisma harus dilakukan secara holistik, mencakup aspek fisik, mental, dan sosial.
- Dengan kesehatan yang baik, tunawisma memiliki kesempatan untuk meraih kehidupan yang lebih baik dan berkontribusi positif bagi masyarakat.
Orang kaya dalam kisah Lazarus dalam menjalani hidup di dunia telah menerima segala hal yang baik tetapi melupakan kesaksian Musa dan para nabi yang berada dalam jangkauan orang kaya sebagai keturunan Abraham. Orang kaya fokus hidupnya ditujukan bagaimana memuaskan kehidupannya yang sementara di bumi dengan segala yang baik yang dimilikinya dan mengabaikan apa yang tertulis dalam kesaksian Musa dan Para nabi dengan bukti tidak melakukan pertobatan dari perbuatan yang sia-sia dengan bersandar dan menikmati hidup dari kekayaannya dan melupakan sekelilingnya sehingga perhatian anjing peliharaannya terhadap Lazarus lebih baik dibandingkan orang yang kaya. Yesus pun menjelaskan jika seorang tidak dapat diyakinkan oleh kesaksian Musa dan Para Nabi maka sulit diyakinkan oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati yaitu Yesus Kristus TUHAN yang bangkit pada hari ke-3 dan pergi ke surga untuk menyediakan tempat bagi yang percaya dan berharap kepada-Nya.
- Tulisan lainnya di werua blog:
- Kesehatan Lintas Generasi
- Antara BPJS Dan Asuransi Kesehatan Swasta
- Terbebas Dari Hipokondria
- Spiritualitas Kekristenan Dan Kesehatan
- Pengaruh Perbuatan Baik Dan Umur Panjang
- Rumah Kena Kusta
- Yesus Dan Penderitaan Kalangan Homeless, Tunawisma Dan Gelandangan
- Letih Lesu Dan Empati Yesus
- Penyakit Dan Penyembuhannya Menurut Alkitab
- Penuntun Melayani Orang Sakit