Ayat di atas adalah ajaran Yesus yang menjadi prinsip universal tentang keterbukaan dan pertanggungjawaban terhadap ucapan yang kita katakan sebab apa saja yang dikatakan dalam gelap akan terdengar dalam terang, dan apa yang dibisikkan ke telinga dalam kamar akan diberitakan dari atap rumah. Yesus mengajarkan tentang keterbukaan informasi yaitu sekalipun informasi ditutupi atau melakukan rekayasa informasi TUHAN Mahatahu memiliki kuasa untuk melemparkan orang ke dalam lautan api yang kekal penuh ratap tangis tak terbayangkan. TUHAN mengetahui dan akan meminta pertanggungjawaban atas segala alasan dari tindakan manusia bila suatu tindakan manusia terjadi akibat mendapatkan suatu informasi terlebih-lebih jika informasinya dinilai oleh TUHAN tidak bertanggungjawab.
Berdasarkan Lukas 12:2 maka wartawan atau jurnalis memiliki peran yang penting agar suatu informasi diketahui oleh banyak orang yang memiliki kepentingan sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat sebelum hal itu terlambat terlebih-lebih jika yang berkepentingan dengan informasi tersebut hingga tiba waktunya dapat dituntut pertanggungjawaban oleh TUHAN sehingga alami hal yang kurang baik karena informasi tersebut tidak diketahui atau hal hal lain termasuk yang bersifat misinformasi atau informasi tidak benar atau tidak akurat tanpa bermaksud mengelabui penerima.
Lukas yang mengetahui pentingnya suatu informasi sehingga ia mengambil keputusan untuk membukukan dengan teratur bagi Teofilus yang mulia agar dapat mengetahui segala sesuatu yang diajarkan terkait dengan Yesus Kristus yang menjadi pembicaraan menarik di saat itu sehingga mengetahui kebenaran yang terjadi selanjutnya mengisahkan "sejarah perkembangan kegiatan misi". Lukas melakukan peran sebagai jurnalis. Berdasarkan teks di atas maka Lukas sebagai jurnalis memiliki peran antara lain:
- Jurnalisme sebagai Pelayanan yang berperan mengungkapkan Kebenaran dengan disertai tanggung jawab sehingga harus selalu berusaha untuk menyajikan informasi yang akurat, objektif, dan tidak memihak.
- Memperjuangkan Keadilan termasuk bagi yang tertindas sehingga seorang wartawan pun harus menggunakan platformnya untuk menyuarakan suara mereka yang tidak terdengar, termasuk mereka yang mengalami ketidakadilan seperti tunawisma sehingga dengan mengungkapkan kebenaran dan mempromosikan keadilan, dapat terlibat dan berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih baik.
- Menjaga Etika Jurnalistik yang Tinggi seperti: "memiliki integritas agar terhindar dari konflik kepentingan, korupsi dan hoax, tanggung jawab sebagai jurnalis dan disertai rasa empati terhadap sesama selain berusaha untuk memahami sudut pandang orang lain dan memperlakukan semua orang dengan hormat.
- Keterkaitan dengan Ajaran Yesus maka Lukas harus berusaha menunjukkan kasih yang Yesus ajarkan yaitu mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri selain mengikuti teladan-Nya dalam memperjuangkan keadilan dan kebenaran karena Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup.
Lukas dalam meliput kisah hidup Yesus menjadi bahan perenungan bagi para jurnalis / wartawan untuk melakukan beberapa hal, seperti:
- Menghindari Sensasionalisme: Fokus pada fakta dan konteks, bukan hanya pada sensasi.
- Memberikan Suara kepada yang Tidak Bersuara: Berikan ruang bagi mereka yang seringkali tidak didengar, seperti kelompok marginal. Lukas mengisahkan orang yang terpinggirkan seperti: orang lumpuh, penderita kusta, orang yang dirasuk setan di Gerasa, anak yang terhilang, Lazarus yang miskin hingga tinggal dekat pintu rumah orang kaya, anak-anak kecil.
- Membangun Jembatan sehingga Teofilus memahami Yesus dan juga para pengikut-Nya. Jurnalis saat ini pun berperan sebagai jembatan antara kelompok yang berbeda, membantu mereka memahami satu sama lain dan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah.
- Menjadi Agen Perubahan dibuktikan melalui tulisan Lukas banyak yang alami hidup baru. Jurnalis pun dapat menjadi agen perubahan dengan menginspirasi orang lain untuk bertindak dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.
Lukas melakukan tindakan memberikan informasi yang terjadi dalam zaman ia hidup sebab hal ini adalah berurusan dengan keterbukaan informasi sebagai prinsip yang menjamin masyarakat memiliki akses terhadap informasi yang mereka butuhkan untuk mengambil keputusan. Dalam konteks jurnalisme, keterbukaan informasi berarti wartawan memiliki kewajiban untuk mencari, memperoleh, dan menyebarkan informasi yang akurat dan lengkap kepada publik. Lukas memberikan informasi penting yang berharga yang tidak lekang oleh waktu.
Masyarakat membutuhkan informasi yang berhubungan dengan kejadian yang ada disekitarnya termasuk hal-hal yang menjadi permasalahan yang populer. Salah satu problem yang dihadapi Indonesia adalah kemiskinan yang menjadikan banyak orang yang menghuni di tempat kumuh, tunawisma dan gelandangan. Secara global informasi tunawisma diduga kemungkinan alami trend kenaikan. Reuter pada hari Sabtu (28/12/224) melaporkan tunawisma di Amerika Serikat alami kenaikan dari 12 persen menjadi 18 persen. Sedangkan di Indonesia merasa bangga menjadi kekuatan ekonomi ke-8 dunia tetapi saat berbicara tentang kemiskinan maka standarnya alami perubahan. “Ibu Satu Kahkonen (Country Director World Bank Indonesia) katakan di speech-nya ketika Anda dapat menurunkan kemiskinan ekstrem menjadi nol tapi garis kemiskinan anda adalah US$1,9, anda harus gunakan US$3,2. Seketika 40% kita semua menjadi miskin,” tanggap Menteri Keuangan Sri Mulyani pada acara Bank Dunia pada 9 Mei 2023. Bila bicara rumah layak huni mendapatkan data menurut Kompas.com, pada 1 Januari 2025, 34,75% keluarga di Indonesia tinggal di rumah tidak layak huni. Menurut perkim.id, 36,85% rumah tangga di Indonesia hidup dalam kondisi tidak layak. Menurut Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu, baru 56,5% rumah tangga di Indonesia menghuni rumah layak huni sehingga orang yang tinggal di tempat tidak layak huni saat ini berada dalam rentang adalah antara 34% hingga 44%
Jurnalis memiliki hubungan yang istimewa dengan media massa sehingga dapat melakukan segala hal yang berkaitan dengan pemberitaan isu atau berita yang beredar di masyarakat baik di dalam negeri maupun luar negeri. Berdasarkan data statistik bahwa orang yang tinggal ditempat layak huni termasuk kelompok gelandangan yang selanjutnya dinamakan kalangan "homeless" cukup signiffikan maka beberapa media massa dapat secara konsisten berperan aktif dalam isu "homeless". Media massa yang dapat menanyangkan isu homeless / tunawisma diantaranya:
- Media Lokal terkait kecenderungan lebih dekat dengan komunitas dan lebih peka terhadap isu-isu yang terjadi di daerahnya. Mereka seringkali memberikan liputan yang lebih mendalam dan berkelanjutan tentang masalah tunawisma.
- Media Nasional yang memiliki jangkauan yang lebih luas dan dapat mempengaruhi opini publik secara lebih besar. Beberapa media nasional seringkali memiliki program khusus atau rubrik yang membahas isu sosial, termasuk tunawisma.
- Media Online seperti situs berita, blog, dan media sosial semakin populer dan efektif dalam menyebarkan informasi. Banyak media online yang secara khusus fokus pada isu sosial, termasuk tunawisma.
- Media Alternatif seperti majalah independen, podcast, dan film dokumenter seringkali memberikan perspektif yang berbeda dan lebih kritis terhadap masalah tunawisma.
Media massa yang menayangkan isu kalangan homeless atau tunawisma sering diakibatkan karena beberapa faktor yang dapat menarik perhatian publik, meningkatkan rating, atau memengaruhi agenda sosial dan politik. Diantaranya seperti:
- Nilai Berita (News Value) yang terkait dengan:
- Dampak Sosial: Tunawisma adalah masalah sosial yang memengaruhi banyak orang, baik langsung maupun tidak langsung. Liputan tentang tunawisma dapat menyoroti ketidakadilan, kemiskinan, atau kegagalan sistem, yang menarik perhatian publik.
- Human Interest: Kisah-kisah personal tentang tunawisma sering kali memiliki elemen emosional yang kuat, seperti perjuangan, penderitaan, atau keberhasilan. Ini dapat menarik empati dan minat audiens.
- Konflik: Media sering tertarik pada konflik, seperti protes tunawisma, ketegangan antara tunawisma dan pemerintah, atau perdebatan kebijakan tentang penanganan tunawisma. - Relevansi Lokal yang lazimnya terjadi jika tunawisma menjadi masalah yang semakin terlihat di suatu daerah (seperti di pusat kota atau tempat umum), media lokal cenderung meliputnya karena relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Contoh: Peningkatan jumlah tunawisma di taman kota atau stasiun kereta api atau lokasi tertentu dapat menarik perhatian media lokal. - Isu Kontroversial berhubung dengan terjadinya isu yang memicu perdebatan, seperti kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil, proyek pembangunan yang mengabaikan tunawisma, atau konflik antara tunawisma dan warga sekitar.
Contoh: Penggusuran tunawisma secara paksa atau pembangunan rumah susun yang tidak terjangkau dapat menjadi bahan liputan yang kontroversial. - Dampak Visual yang Kuat yang disebabkan seperti kalangan tunawisma banyak terlihat di tempat-tempat umum dengan kondisi yang memprihatinkan, seperti tidur di trotoar atau mengemis. Gambar dan video seperti ini memiliki dampak visual yang kuat dan mudah menarik perhatian audiens.
Contoh: Liputan tentang tunawisma di musim dingin dengan kondisi yang memilukan dapat menjadi viral. - Keterkaitan dengan Isu Lain yang dikaitkan dengan isu-isu lain yang sedang hangat, seperti kemiskinan, ketimpangan sosial, kesehatan mental, narkoba, atau krisis perumahan. Media dapat menggunakan isu tunawisma sebagai pintu masuk untuk membahas masalah yang lebih luas.
Contoh: Liputan tentang tunawisma yang juga membahas krisis perumahan atau layanan kesehatan mental. - Peran Aktivis atau Tokoh Publik saat mereka terlibat dalam advokasi untuk tunawisma, media cenderung meliputnya karena adanya unsur ketenaran atau pengaruh sosial.
Contoh: Selebriti yang mendonasikan uang untuk program penanganan tunawisma atau aktivis yang mengorganisir protes. - Perubahan Kebijakan atau Program Pemerintah yang terkait isu "homeless" seperti ketika ada perubahan kebijakan, seperti program bantuan baru, anggaran tambahan, atau inisiatif untuk mengurangi tunawisma. Ini bisa menjadi berita positif atau negatif, tergantung pada efektivitas kebijakan tersebut.
Contoh: Peluncuran program "Rumah Terjangkau" oleh pemerintah atau kritik terhadap program yang gagal. - Krisis atau Kejadian Mendadak seperti bencana alam, pandemi, atau krisis ekonomi, dapat memperburuk masalah tunawisma. Media sering meliput dampak krisis ini pada populasi tunawisma.
Contoh: Peningkatan tunawisma selama pandemi COVID-19 atau setelah bencana alam. - Daya Tarik Emosional karena adanya kisah-kisah tentang tunawisma yang berhasil bangkit dari keterpurukan atau anak-anak yang menjadi korban tunawisma memiliki daya tarik emosional yang kuat. Media sering menggunakan narasi ini untuk menarik simpati dan perhatian audiens.
Contoh: Liputan tentang tunawisma yang berhasil mendapatkan pekerjaan dan rumah setelah bertahun-tahun hidup di jalanan. - Tekanan dari Masyarakat atau LSM yang peduli pada isu tunawisma sering kali mendorong media untuk meliput masalah ini melalui kampanye, press release, atau aksi protes.
Contoh: LSM yang fokus pada hak asasi manusia mungkin mendesak media untuk menyoroti pelanggaran hak tunawisma.
Yesus mengajarkan konsep keterbukaan informasi yang bertanggungjawab dengan resiko bila "lalai" mungkin berdampak dilemparkan ke lautan api / neraka. Pemberitaan isu kalangan homeless yang berdiam di tempat layak huni hingga menjadi gelandangan dapat berdampak positif dan juga negatif. Pemberitaan dapat mendatangkan manfaat dan juga kerugian saat media massa memberitakan masalah tunawisma:
- Manfaat dari memberitakan isu kalangan homeless antara lain:
- Meningkatkan Kesadaran Masyarakat: Media massa berperan sebagai corong informasi. Dengan pemberitaan yang berkelanjutan dan mendalam, masyarakat menjadi lebih sadar akan keberadaan dan kompleksitas masalah tunawisma. Ini dapat memicu empati dan mendorong aksi nyata.
- Mendorong Perubahan Kebijakan: Publisitas yang luas tentang masalah tunawisma dapat mendorong pemerintah dan pembuat kebijakan untuk mengambil tindakan yang lebih serius. Media dapat menjadi katalisator untuk perubahan kebijakan yang lebih baik.
- Menggalang Dukungan: Melalui pemberitaan, media dapat menggalang dukungan dari masyarakat luas, baik dalam bentuk donasi, sukarelawan, maupun advokasi.
- Mendorong Transparansi: Media dapat berperan sebagai pengawas terhadap pemerintah dan lembaga terkait dalam menangani masalah tunawisma. Melalui liputan yang kritis, media dapat mengungkap praktik-praktik yang tidak efektif dan mendorong transparansi.
- Memberikan Suara bagi yang Tak Bersuara: Tunawisma seringkali tidak memiliki platform untuk menyuarakan pendapat dan kebutuhan mereka. Media dapat menjadi perantara untuk menyampaikan suara mereka. - Kerugian dari memberitakan isu kalangan homeless antara lain:
- Stigmatisasi: Pemberitaan yang tidak sensitif dapat memperkuat stigma negatif terhadap tunawisma. Misalnya, jika media hanya fokus pada aspek negatif seperti kriminalitas atau penyakit, maka masyarakat cenderung memandang tunawisma sebagai beban.
- Sensasionalisme: Beberapa media mungkin lebih tertarik pada sensasi daripada memberikan informasi yang akurat dan mendalam. Ini dapat memperburuk persepsi masyarakat terhadap tunawisma.
- Memperburuk Kondisi: Pemberitaan yang berlebihan tentang penderitaan tunawisma dapat menyebabkan rasa putus asa dan apatis pada masyarakat.
- Memicu Konflik Sosial: Pemberitaan yang tidak seimbang dapat memicu konflik antara kelompok masyarakat yang berbeda, misalnya antara penduduk lokal dengan tunawisma yang menempati lokasi tidak sah secara hukum.
Lukas sebagai jurnalis banyak sekali menyoroti kehidupan Yesus dalam Injil Lukas dan kehidupan Petrus lalu Paulus dan Barnabas sebagai obyek utama dari tokoh utama dalam tulisannya. Bila membayangkan Yesus hidup di zaman sekarang dan menjadi seorang yang berprofesi jurnalis lalu ditugaskan meliput masalah tunawisma maka beliau menjadi jurnalis ideal dan sempurna karena melakukan tugasnya dengan penuh empati, keadilan dan semangat yang membawa perubahan. Sebagian dari karakteristik yang mungkin akan ditunjukkan oleh Yesus sebagai seorang jurnalis yang ideal dalam meliput isu tunawisma antara lain:
- Fokus pada Kemanusiaan: Yesus akan selalu menempatkan manusia, terutama mereka yang paling rentan, di pusat perhatian. Beliau akan berusaha untuk memahami pengalaman hidup para tunawisma secara mendalam melalui menyajikan informasi yang akurat dan jujur, bukan sebatas melaporkan fakta-fakta yang menjadi fenomena sosial yang bersifat umum.
- Menghindari Stigmatisasi: Yesus akan menghindari penggunaan bahasa yang merendahkan atau stereotip terhadap tunawisma. Beliau akan berusaha untuk menunjukkan martabat dan nilai intrinsik setiap individu, terlepas dari kondisi sosial mereka.
- Membangun Martabat: Yesus akan selalu menekankan martabat setiap individu, tanpa memandang status sosialnya. Beliau akan memperlakukan setiap tunawisma dengan hormat dan kasih.
- Mencari Akar Masalah: Yesus tidak hanya akan melaporkan gejala masalah tunawisma, tetapi juga akan menggali akar penyebabnya. Beliau akan mencari tahu faktor-faktor sosial, ekonomi, dan politik yang berkontribusi pada masalah ini.
- Menawarkan Solusi: Selain menyoroti masalah, Yesus juga akan menyajikan solusi-solusi yang mungkin. Beliau akan mewawancarai para ahli, aktivis, dan penyandang tunawisma untuk mendapatkan berbagai perspektif dan ide.
- Memperjuangkan Keadilan: Yesus akan memperlakukan semua pihak dengan adil, termasuk tunawisma dan mereka yang berwenang.
- Membangun Empati: Yesus akan menempatkan diri pada posisi tunawisma. Beliau akan berusaha memahami penderitaan, harapan, dan mimpi mereka lalu melalui tulisan atau liputannya, Yesus akan berusaha membangkitkan empati di kalangan pembaca. Beliau akan mengajak pembaca untuk melihat dunia dari perspektif tunawisma.
- Membantu Langsung: Yesus tidak hanya akan melaporkan masalah, tetapi juga akan terlibat langsung dalam membantu tunawisma. Beliau mungkin akan memberikan makanan, pakaian, atau tempat tinggal sementara.
- Menghubungkan dengan Ajaran Agama: Yesus akan menghubungkan isu tunawisma dengan ajaran-ajaran agama tentang kasih, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Beliau akan mendorong pembaca untuk bertindak berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan karena tulisanNya sebagai jurnalis mendidik pembaca agar turut serta mengatasi masalah tersebut.
Nilai-nilai dari watak dan karakter serta kepribadian seorang jurnalis mempengaruhi nilai-nilai dari jurnalis yang dilakukannya. Bila Yesus jadi jurnalis maka hasil liputannya selalu membawa nilai-nilai antara lain:
- Kebenaran: Yesus akan selalu berusaha untuk menyajikan informasi yang akurat dan jujur.
- Keadilan: Yesus akan memperlakukan semua pihak dengan adil, termasuk tunawisma dan mereka yang berwenang.
- Kasih: Kasih akan menjadi motivasi utama dalam setiap liputannya.
- Perdamaian: Yesus akan berusaha untuk membangun jembatan antara kelompok yang berbeda, termasuk antara tunawisma dan masyarakat umum.
Teladan Lukas dalam kegiatannya sebagai jurnalis yang melaporkan apa yang dilakukan Yesus dalam menjalani misi sebagai Anak Manusia di bumi kepada Teofilus yaitu membuat para jurnalis menyadari bahwa memiliki peran mempengaruhi perubahan sosial terkait tunawisma di suatu daerah seperti meningkatkan atau memgurangi jumlah tunawisma melalui hal-hal tertentu yang dapat ditimbulkan sehingga mempengaruhi situasi, seperti:
- Meningkatkan Kesadaran Publik dengan cara media massa menyoroti masalah tunawisma, mengungkapkan akar penyebabnya, dan mendorong empati serta kepedulian masyarakat. Liputan yang mendalam tentang kehidupan tunawisma dapat memicu respons sosial, seperti donasi, relawan, atau tekanan pada pemerintah untuk mengambil tindakan.
Contoh: Liputan tentang tunawisma di musim dingin dapat mendorong masyarakat untuk menyumbangkan selimut atau makanan. - Mempengaruhi Kebijakan Pemerintah karena media memainkan peran penting dalam memengaruhi kebijakan publik dengan menyoroti kegagalan atau keberhasilan program penanganan tunawisma. Liputan kritis tentang kurangnya perumahan terjangkau atau layanan sosial dapat mendorong pemerintah untuk mengalokasikan lebih banyak sumber daya.
Contoh: Investigasi media tentang korupsi dalam program bantuan tunawisma dapat memaksa pemerintah untuk memperbaiki sistem. - Mendorong Stigma atau Stereotip Negatif bila menggambarkan tunawisma sebagai malas, berbahaya, atau tidak bertanggung jawab. Hal ini dapat mengurangi empati masyarakat dan membuat tunawisma semakin terpinggirkan.
Contoh: Pemberitaan yang fokus pada kejahatan yang melibatkan tunawisma dapat menciptakan persepsi bahwa semua tunawisma adalah ancaman. - Mempengaruhi Migrasi Tunawisma bila liputan media tentang program bantuan tunawisma di suatu daerah dapat menarik tunawisma dari daerah lain untuk pindah ke sana, sehingga jumlah tunawisma di daerah tersebut meningkat.
Contoh: Jika sebuah kota meluncurkan program perumahan gratis dan media meliputnya secara luas, tunawisma dari daerah lain mungkin berbondong-bondong ke kota tersebut. - Mendorong Partisipasi Masyarakat dengan menjadi media massa platform untuk menggalang dukungan masyarakat, seperti kampanye pengumpulan dana atau program pelatihan kerja bagi tunawisma. Hal ini dapat membantu mengurangi jumlah tunawisma dalam jangka panjang.
Contoh: Media sosial dapat digunakan untuk menyebarkan informasi tentang program rehabilitasi bagi tunawisma. - Mempengaruhi Persepsi dan Sikap Masyarakat yang dibentuk oleh cara media mengambarkan tunawisma. Jika media menampilkan kisah inspiratif tentang tunawisma yang berhasil bangkit, hal ini dapat mengubah sikap masyarakat menjadi lebih positif dan mendukung solusi jangka panjang.
Jurnalis saat ini bukan hanya dilakukan oleh mereka yang bekerja di perusahaan percetakan, koran, majalah, radio, televisi atau film melainkan dapat dilakukan oleh semua orang untuk membuat suatu konten seperti blogger, YouTuber, atau TikToker. Hadirnya teknologi website dan media sosial sebagai lanjutan dari teknologi gelombang elektromagnetik untuk mengirimkan gelombang suara dengan cara modulasi sehingga banyak pihak dapat membuat pemancar "radio" sehingga muncul seperti orari dan atau radio antar penduduk indonesia yang biasanya tergabung dalam anggota International Amateur Radio Union (IARU). Teknologi saat ini lebih murah dan lebih mudah dioperasikan sehingga dampaknya jauh lebih terasa di masyarakat dan perusahaan yang mengembangkan teknologi media sosial jauh berbeda jauh dengan pengembang yang menekuni prinsip modulasi gelombang elektromagnetik. Kejayaan yang dirasakan oleh lembaga seperti "IARU" berbeda dengan perusahaan seperti Google, Facebook, Twitter.
Pembuat konten saat ini diperhadapkan banyak pilihan untuk menentukan konten apa yang menjadi topik yang ditampilkan dalam saluran untuk melakukan kegiatan bersifat jurnalis termasuk diantaranya pilihan untuk menampilkan hal-hal terkait penyandang masalah tunawisma dengan berbagai motivasi, baik yang bersifat positif maupun negatif. Beberapa kemungkinan motivasi yang mendasarinya:
- Motivasi Positif, seperti:
- Meningkatkan Kesadaran Sosial dengan alasan kemungkinan ingin mengedukasi masyarakat tentang masalah tunawisma, menyoroti akar penyebabnya, dan mendorong empati serta kepedulian terhadap kelompok marginal ini. Cara yang dilakukan seperti membuat video dokumenter tentang kehidupan tunawisma untuk menunjukkan tantangan yang mereka hadapi.
- Mendorong Perubahan Sosial dengan alasan kemungkinan ingin memengaruhi kebijakan publik atau mendorong pemerintah dan masyarakat untuk mengambil tindakan konkret dalam menangani masalah tunawisma. Cara yang dilakukan seperti mengadvokasi program perumahan terjangkau atau layanan kesehatan mental bagi tunawisma.
- Membangun Empati dan Solidaritas dengan alasan kemungkinan ingin menghilangkan stigma negatif terhadap tunawisma dengan menampilkan kisah-kisah inspiratif atau humanis yang menunjukkan sisi manusiawi mereka. Cara yang dilakukan seperti menampilkan kisah tunawisma yang berhasil bangkit dari keterpurukan.
- Menggalang Bantuan atau Donasi dengan alasan kemungkinan menggunakan platform mereka untuk mengumpulkan dana atau sumber daya bagi organisasi yang membantu tunawisma. (Ketulusan dan kejujuran sangat diperlukan sebab praktik penyelewengan atau korupsi sangat besar) Cara yang dilakukan seperti membuat kampanye donasi untuk membeli makanan atau pakaian bagi tunawisma.
- Memenuhi Tujuan Personal atau Spiritual dengan alasan kemungkinan merasa terpanggil secara moral atau spiritual untuk membantu orang yang kurang beruntung, dan mereka menggunakan platform mereka sebagai sarana untuk menjalankan nilai-nilai tersebut. Cara yang dilakukan seperti seorang blogger yang menulis tentang pengalamannya membantu tunawisma sebagai bagian dari misi kemanusiaan. - Motivasi Netral atau Campuran, seperti:
- Menciptakan Konten yang Viral, dengan pola pikir bahwa isu tunawisma memiliki daya tarik emosional yang kuat, sehingga pembuat konten mungkin memanfaatkannya untuk menarik perhatian audiens dan meningkatkan popularitas mereka. Cara yang dilakukan seperti membuat video TikTok tentang interaksi dengan tunawisma yang menyentuh hati.
- Menjalin Hubungan dengan Komunitas dengan tujuan pembuat konten ingin terlibat langsung dengan komunitas tunawisma untuk membangun hubungan atau jaringan sosial. Cara yang dilakukan seperti seorang YouTuber yang secara rutin mengunjungi tunawisma dan membagikan cerita mereka.
- Eksplorasi Topik yang Belum Banyak Disorot disebabkan seperti tertarik untuk mengeksplorasi topik yang dianggap kurang mendapat perhatian media mainstream, sehingga bisa menonjol sebagai suara yang unik. Cara yang dilakukan seperti membuat blog tentang tantangan tunawisma di daerah pedesaan yang sering diabaikan. - Motivasi Negatif, seperti:
- Eksploitasi untuk Popularitas atau Keuntungan misalnya pembuat konten memanfaatkan tunawisma hanya untuk menarik perhatian, meningkatkan jumlah pengikut, atau menghasilkan uang dari iklan tanpa benar-benar peduli pada masalah yang dihadapi tunawisma. Cara yang dilakukan seperti membuat video yang mengekspos tunawisma secara sensasional tanpa memberikan solusi atau bantuan.
- Memenuhi Agenda Pribadi misalnya menggunakan isu tunawisma untuk mempromosikan citra diri mereka sebagai "orang baik" atau "pejuang sosial" tanpa niat tulus untuk membantu. Cara yang dilakukan seperti selebgram yang berfoto dengan tunawisma hanya untuk meningkatkan citra publik mereka.
- Menyebarkan Stigma atau Stereotip Negatif misalnya pembuat konten mungkin secara tidak sadar atau sengaja memperkuat stigma negatif tentang tunawisma dengan menampilkan mereka sebagai malas, berbahaya, atau tidak bertanggung jawab. Cara yang dilakukan seperti membuat konten yang hanya menampilkan tunawisma yang terlibat dalam kejahatan atau perilaku negatif.
Kegiatan jurnalis dengan kemajuan teknologi memudahkan seseorang untuk meliput dan menyebarkan pesan-pesan yang ingin dibangun dengan lebih efektif dan memiliki jangkauan luas meliputi secara global sehingga ajaran dan perkataan Yesus bahwa "Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui" seharusnya diketahui dan disikapi seluruh jurnalis baik yang terdaftar karena profesi-nya adalah seorang jurnalis atau semua orang yang memiliki media sosial termasuk pemilik, editor, dan penulis serta nara sumber dari semua situs website. TUHAN akan memberikan penilaianNya menurut standar yang ditetapkanNya terlebih-lebih terhadap mereka yang karena pemberitaannya menyebabkan orang tidak bersalah terpaksa berurusan dengan aparat penegak hukum atau penguasa yang memiliki kuasa memutuskan sesuatu baik dalam hal ekonomi, sosial, politik, budaya hingga keamanan seperti yang pernah dialami oleh Yesus yang tidak bersalah dituduh melakukan perbuatan yang setimpal dengan hukuman mati dan kemudian dijatuhkan hukuman penyaliban.
Berdasarkan apa yang dilaporkan oleh Lukas maka dalam memberitakan terlebih jika pemberitaan tersebut bersifat menilai suatu peristiwa atau suatu evaluasi maka niai-nilai yang sangat mendasar dalam kegiatan jurnalis harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Diantaranya:
- Jurnalisme harus berorientasi pada kemanusiaan.
- Jurnalis harus memiliki integritas dan kejujuran.
- Jurnalisme sedapat mungkin menjadi alat untuk membawa perubahan sosial menuju kebaikan bersama.
Lukas melaporkan hal kegiatan Paulus yang ketika memaparkan apa yang selama ini diberitakan (Kisah Para Rasul 28:23-25) sehingga hal ini mendasari bahwa sebaik apa pun hasil laporan jurnalis yang dibuat tidak tertutup kemungkinan perbedaan paham diantara mereka yang membaca, melihat, mendengar laporan suatu jurnalis maka jurnalis haruslah dilakukan dan didasarkan pada prinsip profesionalisme, transparansi, dan tanggung jawab sosial. Dengan tetap berpegang pada etika jurnalistik dan berusaha menyajikan informasi yang seimbang dan akurat, jurnalis dapat membantu meredakan atau mengurangi ketegangan dan memberikan pemahaman yang lebih baik kepada publik.
Setiap kegiatan pemberitaan tidak dapat terbebas dari sikap setuju atau menolak suatu gagasan atau ide yang disampaikan. Pro dan kontra adalah hal yang terkadang tidak dapat dihindari sehingga keterbukaan dan tanggung jawab dalam penyebaran informasi perlu diperhatikan. Paulus pun ketika berada di Roma wajib berbicara di Forum Apius dan Tres Taberne. Jika peristiwa Paulus wajib berbicara di forum khusus lalu ditarik dalam sistem yang berlaku dalam dunia jurnalis saat ini maka ada hal-hal yang perlu diperhatikan, seperti "akurasi informasi, transparasi sumber, hormati privasi, hindari sensasional, menjaga etika dan empati, tanggung jawab sosial, kepatuhan hukum, konteks dan keseimbangan dan keamanan data".
Alkitab menyiratkan adanya unsur teladan dari Lukas dalam kegiatan jurnalis yang berharga bagi jurnalis saat ini termasuk mereka yang terpanggil melakukan kegiatan jurnalis di kalangan homeless yang meliputi mereka yang berdiam di tempat kumuh, tunawisma termasuk gelandangan. Dengan marak penguna media sosial maka yang melakukan kegiatan jurnalis dapat dianggap seperti garis lurus dengan yang memiliki akses terhadap media sosial namun berakibat motivasi jurnalis semakin sulit diukur atau diketahui. Bila motivasi para jurnalis yang meliput kalangan homeless itu bersifat positif maka sangat besar pengaruhnya positif terhadap kalangan homeless sehingga dapat berharap kelompok homeless dapat menyusut secara kuantitas dan kuliatas penderitaan kaum homeless atau bila motivasinya negatif maka akan memperburuk keadaan dan menambah kesenjangan sosial karena pembuat konten mendapatkan keuntungan sedangkan obyek dari konten alami kerugian.
Akibat konten yang negatif akan mengalami berbagai kesusahan dan konten negatif itu pasti ada sebab itu bagi pengikut Yesus wajib hidup dalam bimbingan Roh Kudus sebab apa saja dalam setiap aspek kehidupan manusia memiliki nilai yang berharga di mata jurnalis. Yesus berpesan bahwa Roh Kudus akan mengajar "kamu" apa yang harus kamu katakan apabila menjadi korban akibat konten atau penilaian yang menjadi dasar pengambilan keputusan karena yang dijadikan sumber tidak bertanggungjawab. Yesus berdasarkan laporan Lukas memberi perhatian kepada pembuat konten dan mereka yang dijadikan sasaran atau obyek sebuah konten.
Akhir kata dari Salomo dalam kitab Pengkhotbah ialah: takutlah akan Allah dan perpeganglah kepada perintah-perintah-Nya, karena itu adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.
- Tulisan lainnya di werua blog:
- Dari Pemberitaan Menuju Mobilisasi Mulut
- Komunikasi Tertulis Dalam Pengajaran Yesus
- Permasalahan Dalam Komunikasi Digital
- Gelombang Kejut Arus Informasi
- Peran Mulut Mengenggam Dunia
- Sistem Pendidikan Dan Hoax Serta Alkitab
- Belajar Melalui Observasi
- Pikiran Arena Awal Pertempuran
- Rekayasa Perilaku Manusia Dan Teknologi
- Saat Kena Fitnah